Produsen Gerabah di Lamsel Sulit Peroleh Bahan Baku
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Sejumlah produsen gerabah berbahan tanah liat mulai sulit memperoleh bahan baku. Ponidah, perajin gerabah di Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut, tanah liat semula diperoleh dari wilayah Sidomulyo.
Namun kebutuhan lahan pertanian, perumahan dan infrastruktur jalan tol berimbas lokasi sumber bahan baku berkurang.
Bahan baku tanah liat menurutnya harus diperoleh ke wilayah yang lebih jauh. Proses pemesanan tanah liat kerap akan dilakukan saat stok bahan baku berkurang. Tanah liat dibeli oleh pengepul dengan ukuran satu bak kendaraan L300 seharga mulai Rp350.000 hingga Rp400.000 menyesuaikan jarak lokasi pengambilan.
Bahan baku tanah liat yang sulit diperoleh menurutnya imbas sebagian diminta oleh produsen genteng. Satu kali pengiriman dengan volume mencapai dua kubik bisa dipergunakan untuk kebutuhan sebulan.
Semakin banyak gerabah yang dibuat bahan baku akan cepat habis. Bahan baku dominan masih tercampur tanah biasa, pasir, batu sehingga perlu dibersihkan, dihaluskan.
“Butuh proses pengolahan tanah liat memakai mesin molen yang berfungsi untuk membersihkan material kotoran sehingga saat akan dibuat gerabah dalam kondisi halus dengan sedikit campuran pasir halus khusus yang telah diayak,” terang Ponidah saat ditemui Cendana News, Selasa (9/6/2020).
Produksi gerabah di wilayah yang dikenal dengan umbul gentong menurut Ponidah telah ada sejak tahun 1970 silam. Saat itu bahan baku mudah diperoleh dari wilayah tersebut karena produsen gerabah berada pada satu lokasi.
Meski bahan baku mulai sulit diperoleh permintaan gerabah yang masih stabil membuat usaha miliknya tetap ditekuninya.
Pemesanan gerabah menurutnya berasal dari sejumlah kecamatan di Lamsel. Jenis gerabah yang dibuat dominan merupakan peralatan usaha di sektor lain. Jenis wajan atau kreweng dipesan oleh produsen pembuatan emping melinjo, kopi bubuk.
Anglo digunakan bagi pedagang sate dan ayam bakar, cobek untuk usaha kuliner. Sebagian gerabah lain dibuat berupa kendil, gentong, asbak, mplok mplok untuk perabotan rumah tangga.
“Sebagian masyarakat masih setia memakai perabotan berbahan tanah dibanding plastik dan logam,” cetusnya.
Robingah, perajin gerabah lainnya menyebut kualitas tanah liat bisa dilihat dari warnanya. Jenis tanah liat dengan kadar kaulin tinggi memiliki warna lebih putih.

Dalam proses tradisional semula tanah liat hanya digali memakai cangkul dari sekitar rumah. Namun karena puluhan tahun dimanfaatkan sebagian tanah liat berkurang.
“Sejumlah lokasi di kecamatan lain yang menghasilkan tanah liat digali memakai alat berat backhole lalu dikumpulkan bagi produsen gerabah dan genteng,” terang Robingah.
Semula harga tanah liat hanya mencapai Rp100.000 per mobil. Seiring sulitnya bahan baku tanah liat harga semakin meningkat. Agar kualitas gerabah baik diperlukan campuran dari berbagai tanah liat, pasir khusus yang telah diayak untuk memperkuat gerabah.
Jenis yang dibuat dominan benda fungsional sebagian sebagai hiasan. Gerabah untuk hiasan jenis gentong akan diberi ukiran untuk mempercantik penampilan.
Semula hanya diolah dengan proses menginjak dengan kaki, kini pengolahan tanah liat memakai mesin molen. Mesin molen akan mencampurkan jenis tanah liat berbeda, pasir halus hingga merata.
Proses pencampuran dengan alat molen meningkatkan kepadatan tanah liat saat dibentuk. Proses pembuatan gerabah secara manual bisa menghasilkan hingga ratusan gerabah ukuran kecil dan puluhan ukuran besar.
Slamet, pedagang keliling gerabah mengaku membeli gerabah dari Robingah dan Ponidah. Warga asal Candipuro itu mengaku membeli gerabah sesuai jenis dan ukuran dengan harga bervariasi.

Mulai dari cobek harga. Rp5.000 hingga gentong besar seharga Rp100.000. Ia menjual dengan keuntungan mulai Rp5.000 hingga Rp20.000 sesuai ukuran gerabah.
Sebagian gerabah dipesan oleh pemilik warung yang ada di pedesaan. Berjualan secara keliling membuatnya mendapat pesanan dari sejumlah konsumen.
Selama masa pandemi Covid-19 jenis gerabah yang kerap dipesan meliputi jenis gentong cuci tangan. Sebab sejumlah instansi, pemerintah desa memilih gentong untuk cuci tangan sesuai protokol kesehatan.