Petani di Lamsel Percepat Pengolahan Lahan Jelang Tanam Gadu
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Sejumlah petani penanam padi di Lampung Selatan (Lamsel) mulai melakukan proses labuh. Labuh dalam bahasa Jawa oleh petani di wilayah Desa Berundung, Kecamatan Ketapang memiliki makna menggenangi lahan dengan air untuk dibajak.
Sumanto, petani padi di desa tersebut mengaku membersihkan jerami mempersiapkan pengolahan lahan.
Warga di wilayah paret lima tersebut memilih mempercepat pengolahan lahan untuk masa tanam musim kemarau atau gadu. Sesuai perhitungan kalender Jawa untuk pertanian memasuki tahun genap sehingga cocok untuk menanam.
Pasokan air irigasi dari kanal sungai Way Sekampung diakuinya menjadi sumber utama irigasi. Sistem pembagian air dilakukan saat pengolahan lahan dilakukan.
Proses pengolahan lahan menurut Sumanto akan mempergunakan traktor. Penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) traktor lebih praktis untuk penyiapan lahan pembenihan (uritan).
Percepatan pengolahan lahan menurut Sumanto untuk memanfaatkan air yang masih menggenangi area persawahan. Selanjutnya proses perawatan tanaman akan memanfaatkan mesin pompa.
“Potensi pasokan air yang melimpah sesudah masa panen langsung dimanfaatkan agar tidak terbuang, proses penyemaian bibit telah dilakukan pada lokasi darat dua pekan sebelumnya sehingga saat lahan telah diolah bisa dilakukan penanaman,” terang Sumanto saat ditemui Cendana News, Senin (15/6/2020).
Sumanto yang memiliki lahan seluas setengah hektare menyediakan bibit 20 kilogram. Bibit yang telah ditebar sengaja dipilih dari varietas padi IR 64 yang memiliki batang pendek dan usia tanam lebih cepat.
Sebelumnya saat masa tanam penghujan atau rendengan ia memilih menanam padi varietas Muncul. Selain tahan genangan padi Muncul memiliki bobot bagus untuk dijual.
Pilihan menanam padi varietas IR 64 saat musim tanam gadu diakui Sumanto atas faktor toleransi kekeringan. Saat masa tanam gadu ia menyebut pasokan air dipastikan akan berkurang.
Ia telah memiliki fasilitas sumur bor untuk pasokan air saat masa pemupukan pertama. Selain dari sumur bor ia bisa memanfaatkan aliran kanal sungai Way Sekampung.
Petani lain bernama Suranto memilih mempercepat masa tanam memanfaatkan melimpahnya air. Meski sesuai prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dam Geofisika (BMKG) kemarau akan berlangsung sejak Juni dan puncaknya Agustus ia tetap memilih menanam padi. Potensi saluran irigasi dari sungai Way Sekampung membuat petani tidak khawatir akan kekeringan.

“Kuncinya kami memilih varietas padi yang memiliki toleransi tinggi pada kondisi kurang air,” cetusnya.
Sebelum proses pengolahan lahan ia menyebut telah menebarkan pupuk kandang pada lahan sawah. Pupuk tersebut akan dimanfaatkan untuk menjaga kelembaban lahan.
Pemberian pupuk dolomit pada lahan juga membuat kadar keasaman sawah lebih rendah. Setelah proses pengolahan lahan ia memastikan akhir Juni bisa melakukan penananaman (tandur) benih padi.
Pemilihan varietas padi dengan umur pendek jenis IR 64 diakuinya jadi alternatif bagi petani. Sebab jika padi varietas Muncul bisa dipanen saat usia mencapai 130 hari jenis padi IR 64 bisa dipanen saat usia 90 hari.
Pemilihan varietas padi yang cepat dipanen sekaligus efisiensi untuk operasional. Terlebih saat masa tanam gadu hama burung pipit kerap menyerang.
“Saat hama menyerang dengan masa tanam singkat akan mengurangi biaya operasional pemeliharaan,” cetusnya.
Percepatan proses pengolahan lahan oleh petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan dominan memakai alsintan.
Agus, pemilik jasa traktor mengaku petani memilih melakukan percepatan pengolahan lahan dan penanaman untuk menyongsong musim gadu. Pasokan air yang lancar dari gunung Rajabasa membuat petani melakukan percepatan pengolahan lahan.

Percepatan masa tanam oleh petani kerap dilakukan serentak. Selain faktor pembagian air untuk pengolahan lahan, penanaman serentak meminimalisir hama.
Saat penanaman padi dilakukan secara serentak potensi serangan hama jenis tikus, burung pipit bisa diminimalisir. Memulai masa tanam akhir Juni petani diprediksi akan kembali panen saat September hingga Oktober mendatang.