Penjualan Hasil Perkebunan di Bandar Lampung Masih Sepi
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Sejumlah pedagang hasil perkebunan seperti pisang, ubi jalar dan ketela atau singkong di Bandar Lampung, mengaku masih mengalami penurunan penjualan. Hal demikian disebabkan oleh menurunnya jumlah permintaan dari pelaku usaha kecil yang menggunakan berbagai hasil perkebunan itu sebagai bahan baku pembuatan makanan lokal untuk produk oleh-oleh.
Hasan, pedagang kebutuhan buah di pasar Bambu Kuning, Tanjung Karang, menyebut pasokan pisang, ubi jalar, dan singkong dari petani masih stabil. Pasokan berasal dari wilayah kabupaten Lampung Selatan dan Tanggamus. Namun, jumlah permintaan dari para pelaku UMKM mengalami penurunan.

Para pelaku UMKM yang terdampak tidak langsung Corona atau Covid-19, memilih melakukan penghentian produksi. Sebab, laju penjualan produk oleh-oleh selama masa pandemi Covid-19, stagnan. Sebagian hasil pertanian digunakan untuk kebutuhan sektor usaha lain yang tetap beroperasi. Usaha gorengan, kue tradisional dan kebutuhan konsumsi keluarga membutuhkan hasil pertanian yang dijualnya.
Pada kondisi normal, Hasan bisa melayani permintaan singkong, pisang, ubi jalar hingga satu ton per bulan. Permintaan tersebut menurutnya dipenuhi untuk pembuatan keripik dan kuliner untuk oleh-oleh. Produsen oleh-oleh di Jalan Yos Sudarso,Teluk Betung dan Jalan Pagar Alam gang PU menjadi pelanggan tetap.
“Rantai pasok bahan baku dari petani cukup lancar, namun karena pada level pedagang penjualan stagnan, sementara bahan baku dialihkan ke konsumen lain. Hingga masa adaptasi new normal, belum ada peningkatan penjualan,” terang Hasan, saat ditemui Cendana News, Jumat (26/6/2020).
Namun, Hasan mengaku masih tetap memasok produsen kuliner untuk oleh-oleh di lokasi strategis. Sejumlah toko skala kecil penjualan oleh-oleh memilih tutup sejak tiga bulan silam. Pusat penjualan oleh-oleh biasa menambah stok menjelang Idulfitri. Namun, aktivitas mudik yang dilarang ikut berpengaruh pada permintaan bahan baku.
Rohanah, salah satu produsen kerupuk kemplang ikan, menyebut penjualan secara offline, menurun. Namun dengan metode penjualan online, ia masih bisa mendapat permintaan. Meski tidak seramai tahun sebelumnya, suplai kerupuk kemplang tetap dikirim ke sejumlah toko oleh-oleh.
“Kerja sama dengan toko oleh-oleh yang kreatif melakukan strategi marketing online membuat produksi berjalan normal,” papar Rohanah.
Rohanah menyebut, pasokan kebutuhan tepung tapioka, tepung ikan, masih stabil. Namun karena permintaan menurun, ia mmengurangi jumlah produksi. Normalnya, dalam sepekan lima belas bal kerupuk kemplang bisa diproduksi. Namun sejak Covid-19 ia hanya memproduksi dua bal. Omzet semula lebih dari Rp7 juta, anjlok hanya Rp2 juta per pekan.
Yanti, pemilik toko Keripik Lampung yang berjualan di Jalan Pagar Alam, gang PU, Kedaton, Bandar Lampung, juga mengaku omzet menurun drastis. Menjual ratusan jenis makanan tradisional sebagai oleh-oleh, ia melakukan penghentian pasokan dari produsen. Sebab, konsumen yang datang ke tokonya berkurang sejak tiga bulan silam.
Yanti menyebut, normalnya dalam sebulan ia bisa mendapat omzet hingga Rp150 juta. Namun saat Covid-19, ia mencatat omzet hanya berkisar Rp10 juta per bulan. Pada kondisi normal, ia mengandalkan koneksi dari biro perjalanan wisata di Lampung. Wisatawan yang mengunjungi objek wisata di Lampung kerap mampir untuk membeli oleh-oleh.
“Rantai pasok sebetulnya lancar, hanya saja konsumen terbatas karena efek pembatasan aktivitas,” terang Yanti.
Ia memilih menjual oleh-oleh yang telah diproduksi dalam waktu dekat. Dengan penyiapan stok banyak, ia kuatir akan kedaluarsa. Mulai buka sejak pemberlakuan adaptasi new normal, Yanti mengaku mulai banyak pengunjung membeli oleh-oleh. Namun di sepanjang gang PU, puluhan toko memilih tetap tutup karena penjualan sedang lesu.