Masa ‘New Normal’ Sektor Jasa di Bakauheni Menggeliat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Berhenti bekerja selama masa pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) membuat Burhan, penyedia jasa angkut atau porter terasa canggung.

Selama hampir tiga bulan sejak Covid-19 melanda ia tidak bekerja sebab ada larangan mudik. Nihilnya penumpang asal Sumatera tujuan Jawa dan sebaliknya dengan kapal membuat ia kehilangan pekerjaan.

Pada kondisi normal saat angkutan mudik dan balik lebaran Idulfitri sehari ia mendapatkan upah ratusan ribu. Sebagai buruh tentengan atau porter dengan seragam merah ia mendapat konsumen pengguna jasa yang membawa barang.

Sekali angkut dengan kesepakatan menyesuaikan berat dan jumlah barang ia diupah Rp20.000 hingga Rp30.000.

Namun imbas Covid-19 sejak awal tahun jasa buruh tententan yang ditekuninya tidak berfungsi. Penumpang asal Sumatera dan Jawa tidak ada karena prosedur ketat larangan menyeberang.

Tanpa surat sehat, bebas Covid-19 tidak bisa membeli tiket kapal. Imbasnya bagi penyedia jasa angkut barang ia tidak mendapatkan satu pun pelanggan.

“Sempat istirahat selama tiga bulan karena tidak ada penumpang pejalan kaki yang potensial membawa barang untuk menjadi sumber penghasilan kami, baru mulai kerja setelah ada kelonggaran dan adaptasi kenormalan baru atau new normal,” terang Burhan saat ditemui Cendana News, Selasa (16/6/2020).

Jasa buruh tentengan menurutnya merupakan pekerjaan mengandalkan tenaga. Saat hari normal sebanyak 70 orang buruh tentengan atau porter bisa dibagi dalam tiga sif. Memilih sif pagi dilakukan hingga siang.

Meski belum seramai hari biasa dalam satu sif ia bisa mendapat hasil Rp100 ribu dari lima pengguna jasanya. Ia bersiap kembali ke rumah untuk istirahat.

Sujono yang masuk sif siang mengaku mendapatkan dua pengguna jasanya. Saat kapal sandar di dermaga dua pelabuhan Bakauheni ia telah melompat ke atas kapal melalui gangway.

Sujono, salah satu porter barang di pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan kembali melaksanakan pekerjaan setelah tiga bulan berhenti kerja selama masa pandemi Covid-19, Selasa (16/6/2020) – Foto: Henk Widi

Satu konsumen pekerja asal Banten yang membawa tas memintanya mengangkat barang hingga ke terminal. Sesuai kesepakatan ia diupah Rp30.000.

“Sudah tiga hari saya bekerja karena sebelumnya istirahat setelah tiga bulan tidak ada kerjaan, menganggur,” terang Sujono.

Sujono yang merupakan warga asal Bakauheni itu menyebut mengandalkan tenaga untuk mengangkat barang. Sehari penghasilan yang diperoleh tidak menentu namun lebih menjanjikan daripada menganggur di rumah. Selain itu ia menyebut masih bisa mengantongi uang ratusan ribu dari jasa yang ditawarkannya.

Kesepakatan dengan pengguna jasa akan menentukan pendapatan yang diperoleh. Saat barang yang diangkut banyak dan berat ia harus menggunakan tali khusus.

Sejumlah pengguna jasa kerap akan memberi upah lebih dengan penuh keikhlasan. Beruntung saat adaptasi new normal ia bisa kembali bekerja dengan protokol kesehatan di pelabuhan.

“Kami diwajibkan memakai masker dan ada tempat cuci tangan dengan sabun di dekat loket,” tuturnya.

Selain buruh tentengan atau porter barang, sejumlah pengemudi angkutan pedesaan, travel dan bus mulai beroperasi kembali.

Murni, petugas Organda Bakauheni menyebut aturan penumpang dibatasi tidak diberlakukan. Hanya saja sejumlah pengemudi menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, jaga jarak dan cuci tangan dengan sabun.

Sebelumnya saat larangan mudik sejumlah kendaraan berhenti operasi. Sebab penumpang asal pulau Jawa tidak ada. Larangan menyeberang berimbas omzet pelaku usaha transportasi anjlok. Saat adaptasi new normal bus dan travel trayek Bakauheni ke sejumlah kota di Lampung mulai mendapat penumpang. Meski belum banyak rata-rata ada penumpang.

“Sebagian pengemudi menaikkan tarif untuk menutupi kerugian, kondisi ini lebih baik dari tiga bulan sebelumnya,” papar Murni.

Sekali perjalanan atau satu rit, setiap kendaraan travel bisa mendapatkan penumpang minimal 4 orang. Hasilnya dengan tarif Rp50.000 per orang bisa diperoleh hasil minimal Rp200.000 belum termasuk penumpang yang naik di tepi jalan. Sektor usaha transportasi menurutnya mulai kembali bergeliat dan mendukung sektor usaha lain.

Lestari, pedagang asongan di pelabuhan Bakauheni menyebut konsumen mulai normal. Sebab sejumlah pencari penumpang, buruh angkut, pengemudi bisa membeli barang dagangannya.

Sebelumnya selama Covid-19 ia hanya mendapatkan omzet puluhan ribu per hari. Kini dengan menjual kopi, minuman dan makanan ringan ia beromzet ratusan ribu.

Meski sudah boleh berjualan namun ia menyebut belum seramai saat kondisi normal. Pedagang asongan di area terminal menurutnya mencapai puluhan orang.

Namun sebagian pedagang dibagi dalam tiga sif sehingga memberi kesempatan bagi pedagang lain. Berjualan sejak pagi ia akan pulang saat sore hari untuk kembali berdagang esok harinya.

Lihat juga...