Pandemi Covid-19 Ekonomi Indonesia Tumbuh Negatif
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Pelemahan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19 diprediksi mencapai puncaknya pada kuartal (triwulan) II tahun 2020. Hampir semua lembaga keuangan internasional memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh negatif.
Bloomberg Median memprediksi ekonomi nasional tumbuh -3,1 persen, lalu Mandiri Securities -3,4 persen, Oxford Economics -6,1 persen, HSBC Holdings -3,8 persen, UBS -3,1 persen, dan ING Group -5,1 persen. Sementara Moody’s memprediksi ekonomi nasional masih mampu tumbuh positif di angka 1,9 persen, serta ANZ Group 0,8 persen.
“Kami di pemerintah sendiri juga memprediksi ekonomi kita akan tumbuh negatif 3,1 persen pada kuartal II. Jadi dari sini forecast (prediksi) ekonomi Indonesia 2020 akan sangat ditentukan oleh kuartal III, apakah akan lebih baik dari kuartal II atau tidak. Dan apakah di kuartal IV akan ada recovery yang muncul,” terang Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam jumpa pers mengenai APBN KiTa, Selasa (16/6/2020) secara virtual.
“Pemerintah masih menggunakan (prediksi pertumbuhan ekonomi 2020) antara -0,4 sampai 2,3. Meskipun poin estimate kita sudah mendekati di level 0 hingga 1 persen,” sambung Menkeu.
Indonesia bukan satu-satunya negara yang diprediksi akan pelemahan cukup dalam pada kuartal II tahun ini. Hampir semua negara maju bahkan diperkirakan masuk ke jurang pelambatan ekonomi akibat wabah pandemi. Seperti Amerika Serikat -9,7 persen, Inggris -15,4 persen, Jerman -11,2 persen, Perancis -17,2 dan Jepang -8,3.
“Negara-negara berkembang dan ASEAN juga termasuk yang diproyeksikan tumbuh negatif, seperti India di angka -12,4 persen, Singapura -6,8 persen dan Malaysia -8 persen. Praktis hanya Tiongkok yang diprediksi tumbuh positif di angka 1,2 persen, setelah sebelumnya pada kuartal I tumbuh negatif -6,8 persen,” tukas Menkeu.
Lebih lanjut, Menkeu menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya agar dapat mengelola risiko dengan menghadirkan kebijakan yang tepat, sehingga perekonomian nasional tidak jatuh pada skenario terberat, di mana pertumbuhan ekonomi berada di level -2,3 persen, kemiskinan bertambah 4,86 juta orang dan pengangguran bertambah 5,23 juta orang.
“Seperti yang telah kita ketahui semua, bahwa pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp695,20 triliun untuk penanganan Covid-19, yang akan disalurkan di sekor kesehatan, perlindungan sosial, insentif usaha, UMKM, pembiayaan korporasi dan Kementerian Lembaga dan Pemda. Ini semua bagian dari upaya kita menghindari risiko terberat itu,” pungkas Menkeu.