Maksimalkan Hasil, Petani Lamsel Terapkan Penanaman Polikultur
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LAMPUNG — Petani di Lampung Selatan (Lamsel) memaksimalkan hasil pertanian dengan sistem polikultur. Selain tanaman padi pada lahan basah, masyarakat setempat juga menanam genjer, sedangkan untuk lahan kering ditanam sejumlah sayuran.
Wiyono, pemilik lahan sawah di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebutkan pola penanaman polikultur dengan memanfaatkan sejumlah tanaman merupakan kearifan petani setempat. Produktivitas tanaman pada sistem ini dinilai tepat diterapkan selama pandemi Covid-19, sebab memiliki manfaat untuk menjaga ketahanan pangan keluarga.
“Niat awal menanam beragam sayuran untuk kebutuhan sendiri namun karena hasil panen melimpah sebagian dibeli oleh pemilik warung untuk dijual kembali atau oleh sejumlah ibu rumah tangga, meski hasil kecil bisa untuk tabungan,” terang Wiyono saat ditemui Cendana News di lahan miliknya, Senin (1/6/2020).
Ia menanam genjer di beberapa petak sawah, di lahan kering ditanami bayam, kangkung, sawi, selada, kacang panjang, mentimun, kemangi. Sebagian sayuran yang ditanam tanpa memakai bahan kimia dalam perawatannya kerap diminati oleh pedagang kuliner pecel lele.
Berbagai jenis sayuran yang ditanam menurut Wiyono bisa dijual dengan harga mulai Rp1.000 perikat. Genjer, kemangi, sawi, bayam dijualnya Rp1.000 per ikat dengan permintaan dari pedagang sayur rutin setiap hari.
“Dari segi ekonomis cukup menguntungkan sekaligus memanfaatkan lahan yang selama ini tidak dimanfaatkan,” cetusnya.
Atin, petani lain yang memanfaatkan lahan lebih luas menerapkan sistem polikultur dengan tanaman cabai, tomat, melon. Ketiga jenis tanaman tersebut dibudidayakan dengan pola insentif memakai mulsa.
Jenis tanaman cabai merah keriting varietas lokal menurut Atin ditanam sekitar 7.000 batang. Memasuki proses pemanenan tahap pertama saat usia tiga bulan ia bisa memanen sekitar 5 kuintal. Total sebanyak 7 ton hingga akhir panen bisa diperolehnya.
“Di sela sela mulsa penanaman cabai merah besar penanaman tomat, cabai caplak juga dilakukan bisa dipanen usia empat bulan,” bebernya.
Meski harga cabai sedang anjlok pada tingkat petani, kebutuhan tetap rutin diminta pedagang. Kini harga cabai merah hanya mencapai Rp13.000 pada level petani, cabai caplak Rp10.000, tomat Rp10.000 per kilogram. Ia masih tetap bisa mendapat keuntungan dari hasil panen sekitar 5.000 batang tanaman melon dengan harga Rp8.000 per kilogram.
Sistem penanaman polikultur menurutnya sekaligus berfungsi memutus mata rantai kehidupan hama. Ia memilih membudidayakan jenis tanaman hirtikultura meski lahan sawah sebelumnya untuk penanaman padi. Pada masa tanam gadu atau kemarau dengan pasokan air kurang penanaman sayuran dan buah akan tetap memberi hasil maksimal bagi petani.