Mendobrak Tradisi, Eus Ajak Petani di Sikka Tanam Sayuran

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Dalam seminggu hampir 10 ton tomat dan lombok didatangkan dari Makassar Provinsi Sulawesi Selatan untuk dijual di pasar Alok Maumere Kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Eustakius Bogar saat ditemui di kebunnya, Senin (1/6/2020). Foto : Ebed de Rosary

Belum termasuk bawang merah dan bawang putih yang harus didatangkan dari Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) serta Surabaya Provinsi Jawa Timur serta aneka sayuran dari luar kabupaten Sikka.

“Peluang untuk menanam holtikultura terutama sayuran sangat besar. Ini yang membuat saya mulai melakukan budidaya holtikultura sejak tahun 2017,” kata Ketua Kelompok Tani Sinar Bahagia Desa Nitakloang Kecamatan Nita Kabupaten Sikka, NTT, Eustakius Bogar, Senin (1/6/2020).

Eus boleh dikatakan sebagai petani muda yang mendobrak tradisi budidaya pertanian di Sikka. Sejak dahulu ia melihat warga di desanya selalu menanam holtikultura dan menyekolahkan banyak anak hingga sarjana.

Tapi kata dia, perlahan tanaman holtikultura ditinggalkan. Kebun pun berganti dengan tanaman perkebunan seperti jambu mete, kelapa dan kakao, tapi petani pun tetap tidak beranjak meraih kesejahteraan, padahal sumber daya alam melimpah.

“Kecamatan Nita, lahan pertaniannya rata-rata di atas ketinggian 330 Mdpl sehingga berpotensi untuk ditanami holtikultura. Saya harus memulai karena dunia pertanian mulai ditinggalkan anak muda,” sebutnya.

Eus pun mulai membabat kebun kakao dan kelapa seluas 1,5 hektare yang hanya bisa membuatnya memegang pendapatan bersih tak lebih dari 10 juta setahun. Lahan itu pun diubah dengan menanam tomat dan buncis.

Tak dinyana kata dia, setelah 4 bulan ia panen dan bisa meraih untung Rp70 juta. Dia mengakui hanya ingin membuktikan kepada orang tua dan saudaranya bahwa tanaman holtikultura sangat menguntungkan.

“Dengan bertani holtikultura saya mendapatkan ilmu bertani yang berkembang bukan bertani secar tradisional. Kalau sekedar tanam tomat anak saya yang masih sekolah dasar juga bisa,” ujarnya.

Tetapi menanam tomat dalam jumlah banyak, sebut Eus, dengan sistem budidaya yang baik, menghasilkan produksi yang banyak dan kualitas yang bagus.

Apalagi proses menanamnya kata dia, menggunakan mulsa dan memakai pupuk bokasi serta menggunakan sistem pertanian modern. Saat ini pun dirinya sedang belajar pertanian hidroponik dan sistim tetes.

“Saya sejak awal mengajak petani untuk menanam dalam jumlah yang banyak, minimal 2 ribu pohon sekali tanam, agar keuntungan yang diperoleh pun lebih banyak,” ungkapnya.

Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Nita, Manserius Menga, SSt mengatakan, Eus merupakan salah seorang petani pelopor budidaya holtikultura di Kabupaten Sikka yang menanam dalam jumlah banyak dengan sistem pertanian modern.

Menurut Manse sapaannya, apa yang dilakukan Eus bisa memotivasi petani lainnya di Desa Nitakloang dan Kecamatan Nita serta kecamatan lainnya di Kabupaten Sikka untuk melakukan budidaya holtikultura.

“Sebagai penyuluh saya memberikan apresiasi kepada Eus karena mampu menularkan semangat bertani kepada anak-anak muda lainnya di desanya maupun wilayah kecamatan lainnya di Kabupaten Sikka,” ucapnya.

Lihat juga...