Komoditi Pangan di NTT Berisiko Dorong Inflasi

Ilustrasi -Dok: CDN

KUPANG – Bank Indonesia menyebutkan, komoditi bahan pangan berisiko mendorong inflasi di Nusa Tenggara Timur pada 2020, seiring keterlambatan musim penghujan di wilayah itu.

Hasil kajian ekonomi dan keuangan regional NTT yang diterima, menyebutkan biasanya masa tanam petani di mulai pada akhir November hingga pertengahan Desember, saat di mulainya musim penghujan. Namun, sampai Februari 2020 curah hujan di Provinsi NTT masih belum stabil.

Bank Indonesia memperkirakan, pada akhir 2020, inflasi Provinsi NTT mencapai kisaran 2,40 – 2,80 persen (yoy), meningkat dibandingkan realisasi inflasi 2019 sebesar 0,67 persen (yoy).

Perkiraan inflasi di Provinsi NTT pada 2020 masih dalam kisaran sasaran inflasi nasional yakni 3,00 + 1,00 persen (yoy).

Menurut Bank Indonesia, mundurnya masa tanam berpotensi menurunkan produksi hasil pertanian di Provinsi NTT, sehingga berdampak pada ketersediaan pasokan.

Di sisi lain, kebijakan antisipasi Covid-19 berpotensi menahan perdagangan luar negeri Indonesia dengan Tiongkok. Hal tersebut berisiko menurunkan ketersediaan pasokan bahan makanan, terutama komoditas yang produksinya terbatas di Indonesia dan didatangkan dari Tiongkok.

Kenaikan harga minyak dunia juga menjadi salah satu risiko pendorong inflasi, meskipun diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kenaikan harga minyak dunia, terutama akan berdampak pada harga bensin dan tarif angkutan udara yang merupakan komoditas utama penyumbang inflasi di Provinsi NTT. (Ant)

Lihat juga...