Dekopinda Banyumas: Damandiri Gencar Berdayakan Masyarakat Desa
Editor: Makmun Hidayat
PURWOKERTO — Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopinda) Kabupaten Banyumas, Muhammd Arsad Dalimunte merasa sangat beruntung mendapat kesempatan untuk belajar langsung dari Ketua Yayasan Damandiri yang juga Menteri Koperasi dan UKM RI era 90-an, Subiakto Tjakrawerdaja.
“Tidak semua pengurus koperasi mendapat kesempatan untuk menimba ilmu dari pakar sekaligus praktisi koperasi yang sudah berpengalaman sekelas Pak Soebiakto dan saya mendapat kesempatan tersebut, jadi sangat bersyukur sekaligus bangga,” tuturnya, Senin (22/6/2020).
Ada satu pernyataan dari Subiakto yang terus teringat dalam benak Arsad, yaitu dalam satu rapat di kantor Yayasan Damandiri, Subiakto mengatakan, bahwa berkoperasi itu wajib bagi seluruh rakyat Indonesia. Arsad mengaku terkejut, sebab statemen tersebut bertolak belakang dengan prinsip keanggotaan koperasi yang menganut prinsip keanggotaan sukarela dan terbuka.
Seiring berjalannya waktu, Arsad baru menemukan nalar logis yang melatarbelakangi statemen Subiakto yang memposisikan berkoperasi bagi orang Indonesia itu idealnya bersifat “wajib”. Hal ini terungkap saat ia meminta persetujuan Subiakto tentang draft 3 materi yang akan dipresentasikan di acara up grading yang dihadiri para pengurus koperasi binaan Yayasan Damandiri pada bulan Juli 2019 di Yogyakarta.
“Setelah membaca draft yang saya kirimkan, beliau langsung menelepon saya. Beliau mengatakan yang menjadi cita-citanya adalah koperasi versi Indonesia yang filosofinya mereferensi pada sejarah keterbentukan negara Indonesia.”
“Koperasi Indonesia tidak dibangun di atas semangat individualis yang hanya bergabung ke koperasi bila menguntungkan saja. Koperasi Indonesia harus dibangun di atas semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan sehingga terbangun keberdayaan seluruh masyarakat Indonesia. Keberdayaan itu akan berpeluang hadir bila yang satu memiliki kepedulian terhadap lainnya. Semua orang Indonesia memahami dan menyadari bahwa harus ada nilai manfaat bagi orang lain setiap kali seseorang menggunakan hak individunya.”
“Jadi, setiap orang harus merasa menjadi bagian dari lainnya sehingga terhindar dari sikap-sikap primordial, bijak di keberagaman dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika dan sekaligus terbangun persatuan dan kesatuan bangsa,” ucap Arsad menirukan wejangan dari Soebiakto.
Menurut Arsad, pesan-pesan yang disampaikan Subiakto membangkitkan spirit kebangsaan. Dan pernyataan Subiakto tidak hanya sekadar retorika semata, tetapi juga diwujudkan dalam berbagai program pemberdayaan melalui Yayasan Damandiri.
“Pak Subiakto ingin agar orang miskin terangkat harkat martabat dan ekonominya melalui koperasi. Beliau selalu ingin meyakinkan pada setiap orang miskin bahwa mereka berhak dan berkesempatan untuk memperbaiki perekonomiannya ke level yang lebih baik, sepanjang mau mengubah mindset dan bekerja keras. Sampai detik ini, Pak Bi masih berkeyakinan bahwa orang miskin bisa menjadi sejahtera melalui treatment edukatif dan motivasional yang polanya selalu terbarukan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Karenanya Yayasan Damandiri yang dipimpin beliau begitu gencar melakukan pemberdayaan bagi masyarakat pedesaan,” jelasnya.
Manager KUD Utama yang mengelola Warung Cerdas di Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Sudaryanto, menyebutkan, saat pihaknya mengajukan pinjaman modal untuk membuka Warung Cerdas, Subiakto langsung menyetujui, karena melihat aspek manfaat bagi kesejahteraan masyarakat sekitar cukup besar.
“Pak Subyakto sempat berkunjung ke KUD kami, kemudian memberikan bantuan pinjaman modal untuk membuka Warung Cerdas Wanareja ini,” tuturnya.