Bali Pastikan Masa Belajar dari Rumah Diperpanjang
Editor: Koko Triarko
DENPASAR – Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bali, Ketut Ngurah Boy Jaya Wibawa, memastikan proses belajar mengajar di rumah oleh siswa terus berlanjut. Menurutnya, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona yang saat ini masih terus terjadi.
Menurutnya, perpanjangan belajar from home ini belum diketahui sampai kapan. Namun, berdasarkan imbauan Gubernur Bali, Wayan Koster, sampai situasi normal kembali.
“Kami mengikuti imbauan dari ketua gugus tugas, yaitu Bapak Gubernur Bali, sampai kondisi benar-benar aman. Meskipun Menteri Pendidikan, Bapak Nadiem Makarim, sudah memperbolehkan untuk melakukan proses pembelajaran di bulan depan. Kita lebih menjaga keselamatan dan kesehatan, baik siswa maupun dewan guru,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Kamis (14/5/2020).
Dikatakan, pihaknya juga telah melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran yang selama ini dilakukan di rumah. Ada dua hal dari evaluasi tersebut, yaitu evaluasi teknis dan nonteknis.
Berdasarkan evaluasi nonteknis, banyak siswa dan guru yang tidak memiliki kuota dalam memenuhi kebutuhan proses pembelajaran daring. Namun, hal ini sudah bisa disiasati dengan cara menggunakan dana bos untuk kebutuhan pembelian kuota internet untuk mendukung program pembelajaran daring ini tetap berjalan.
Sementara berdasarkan temuan dari evaluasi teknis, banyak dari siswa dan guru tidak memiliki fasilitas pembelajaran seperti HP Android, TV pintar. Sebab itu, pihak sekolah dalam hal ini merupakan kepala sekolah dan guru harus melakukan upaya-upaya agar suasana pembelajaran tidak jenuh. Misalnya, tidak menjadikan capaian kurikulum dalam proses pembelajaran. Maka, pihak guru harus membuat kegiatan belajar mengajar yang sesuai bakat dan minat para siswa.
Menurutnya, di tengah pandemi ini, baik siswa maupun guru, bahkan orang tua, memerlukan kegiatan yang bisa merangsang imun, bakat dan minat siswa.
“Karena ini kondisi tidak seperti biasanya. Sebab itu diperlukan kegiatan yang bisa merangsang imun yang baik. Tak melulu soal kurikulum. Jika ada yang bertanya, bagaimana tingkat kualitas pembelajarannya jika tidak sesuai dengan kurikulum. Jawabannya ya karena ini kondisi berbeda. Kita dihadapkan pada dua situasi, lebih memilih kualitas atau keselamatan dan kesehatan siswa dan gurunya?” jelasnya.
Sementara itu, Nonik, orang tua siswa sekolah dasar (SD) di Denpasar mengatakan, selama proses pembelajaran di rumah pihaknya mendukung evaluasi teknis yang dilakukan oleh Diknas Provensi Bali. Upaya orang tua di rumah juga demikian, menjaga mental anak-anak di rumah agar tetap mengikuti program pembelajaran yang menyenangkan.
“Intinya kan tetap belajar, tapi harus dibikin tidak serius. Karena menghindari anak-anak jenuh di rumah,” tandasnya.