TN Wakatobi Berdayakan Nelayan Melalui Program Kemitraan

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)  memajukan program kemitraan konservasi sebagai upaya mendorong kesejahteraan masyarakat dan kelestarian kawasan konservasi (Kawasan Lestari Masyarakat Sejahtera). 

Sekretaris Jenderal Kementerian LHK sekaligus Pelaksana Tugas Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Kementerian LHK, Bambang Hendroyono, menyampaikan, bahwa KLHK melalui Balai TN Wakatobi Sulawesi Tenggara kepada masyarakat Desa Mantigola dan Desa Horuo, memfasilitasi dan memberikan bantuan modal untuk pembudidayaan lobster mutiara.

“Bantuan melalui Kemitraan Konservasi ini diharapkan mampu mendorong ekonomi untuk kesejahteraan dan kelestarian kawasan TN Wakatobi,” kata Bambang, melalui rilis yang diterima Cendana News, Kamis (14/5/2020).

Darman, selaku Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi menambahkan, jika dalam mengelola TN Wakatobi masyarakat selalu ditempatkan sebagai subyek dalam pengelolaan kawasan konservasi bersama pengelola kawasan.

Keterikatan masyarakat dengan alam, khususnya di Wakatobi atau Kawasan Konsevasi, sudah berjalan sejak mereka berdiam di tempat itu.

Sekretaris Jenderal Kementerian LHK yang sekaligus Pelaksana Tugas Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Kementerian LHK, Bambang Hendroyono, saat tanya jawab dengan awak media beberapa waktu lalu. –Foto: Ist.

“Karenanya, kawasan itu harus kita kelola dengan baik dan benar, sehingga masyarakat yang ada di dalam atau di sekitarnya dapat merasakan manfaat melalui interaksi yang harmonis antara masyarakat dan alam,” ujarnya.

Dirinya mencontohkan, seperti di Pulau Kaledupa TN Wakatobi, pemanfaatan kawasan perairan laut yang dilakukan oleh masyarakat dapat dikatakan cukup tinggi, namun dirasa masih kurang efektif dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Karena itu diperlukan fasilitasi melalui program peningkatan usaha ekonomi masyarakat.

Forum Kemitraan Nelayan Desa Horuo dan Desa Mantigola, sebutnya, merupakan salah satu kelompok dampingan Balai Taman Nasional Wakatobi yang sedang mengembangkan budi daya lobster mutiara di Desa Horuo-Mantigola Kecamatan Kaledupa, yang masuk dalam kawasan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II, TN Wakatobi.

Pemberian bantuan melalui program peningkatan usaha ekonomi masyarakat ini didasarkan pada harapan dan cita-cita, agar pemanfaatan sumber daya alam oleh masyarakat dapat dilakukan secara lestari dan berkelanjutan.

Program ini juga diharapkan dapat mengubah cara berpikir nelayan di sana untuk mau melakukan upaya budi daya, agar tidak selalu mengandalkan penangkapan di alam yang lambat laun tidak akan mampu mencukupi konsumsi masyarakat yang selalu meningkat.

“Lobster mutiara merupakan hewan konsumsi air laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Keistimewaan lainnya adalah rasa daging yang gurih dan lezat,” katanya melalui laman rilis KLHK.

Permintaan pasar yang tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri. Peluang pembudidayaan masih sangat terbuka dengan adanya potensi lahan perairan di Desa Horuo dan Desa Mantigola, dan belum dilakukan secara optimal.

Darman juga menyampaikan, bahwa tujuan utama dari pengembangan ekonomi masyarakat sekitar kawasan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya alam laut, dan peningkatan kelembagaan kelompok agar dapat bersinergi untuk menghasilkan suatu produk yang mampu memberikan nilai tambah dan bermanfaat bagi masyarakat.

Keramba/Rumah Budi Daya dibangun dan dikelola bersama-sama oleh anggota kelompok masyarakat, baik secara individu atau pun secara gotong-royong.

Jumlah bantuan modal yang diberikan kepada Forum Kemitraan Nelayan sebesar Rp50 juta untuk pembelian bahan bangunan, bibit dan pakan lobster mutiara.

Saat ini, budi daya keramba lobster mutiara sudah berjalan selama lebih kurang lima bulan, dan direncanakan akan dilakukan panen pada Agustus tahun ini. Peluang bisnis budi daya lobster mutiara cukup menjanjikan.

Bibit yang dilepaskan awalnya berjumlah 115 ekor, dengan berat total bibit 25 kg, jika dibudidayakan selama 8 bulan, maka diproyeksikan akan mencapai berat 1 kg per satu ekor lobster. Harga pasar lobster mutiara per kilogramnya mencapai Rp1,200,000.

Adanya Pandemi Covid-19, tentunya menjadi ancaman yang cukup menakutkan bagi kelompok pengelola keramba. Pasalnya, harga lobster mutiara yang semula cukup tinggi di pasaran, dikhawatirkan terdampak karena adanya pembatasan sosial.

Hal ini tentu juga menjadi tantangan tersendiri bagi pihak Taman Nasional Wakatobi, untuk memberi semangat dan dukungan kepada kelompok dalam mengelola keramba sebaik-baiknya, karena di masa-masa seperti saat ini selalu ada optimisme untuk maju dan keluar dari berbagai kesulitan.

Lihat juga...