Pedagang Pasar Tradisional di Purwokerto Sepi Pembeli
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
PURWOKERTO – Memasuki hari kelima bulan puasa, omzet para pedagang di pasar tradisional justru menurun. Padahal, bulan Ramadan biasanya menjadi panen mereka untuk meraup keuntungan.
“Sepi pembeli, dari pagi sampai siang ini baru 3-4 orang yang beli sayuran. Kalau dibanding puasa tahun lalu jauh sekali,” tutur salah seorang penjual di Pasar Wage, Purwokerto, Suryati, Selasa (28/4/2020).
Sehari-hari, Suryati berjualan aneka jenis sayuran, mulai dari terung, wortel, kubis, tomas, pare dan lainnya. Ia mulai berjualan selepas Subuh dan biasanya menjelang siang hari, dagangannya sudah habis. Namun, sekarang sampai menjelang Zuhur, dagangannya masih banyak.
“Kalau penjualan sepi terus seperti ini, ya tidak bisa lebaran. Hasil jualan sayur hanya cukup untuk makan sehari-hari, itu pun makan sekedarnya saja, karena masih harus menyisihkan uang untuk kulakan sayur,” keluhnya.
Guna menyiasati sepinya pembeli, Suryati mengurangi jumlah sayuran dagangannya dan ia menambah dengan jualan lainnya, seperti tahu, tempe serta tape. Dengan harapan, pembeli bisa lebih komplit untuk memilih belanjaan.
“Sayuran kalau 3-4 hari tidak laku, akan membusuk, jadi saya kurangi stoknya,” jelasnya.
Tak hanya Suryati yang mengeluhkan sepi pembeli di bulan Ramadan. Pedagang bumbu, Inayah juga mengeluhkan hal yang sama.
Menurutnya, penjualan bumbu dapur sepi. Padahal pada puasa tahun lalu, penjualannya meningkat sampai tiga kali lipat, karena orang banyak yang memasak dalam jumlah besar untuk buka puasa bersama ataupun warung-warung makan yang membeli dalam jumlah besar.
“Sekarang warung makan banyak yang tutup dan orang juga banyak yang kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), jadi banyak yang tidak punya uang. Dampaknya penjualan di pasar tradisional jadi ikut sepi,” katanya.
Terkait rencana Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Banyumas yang akan memberlakukan belanja daring pada beberapa pasar tradisional, Inayah mengaku tidak berharap banyak bisa mendongkrak penjualannya.
Menurutnya, kalau belanja online, yang akan dibeli biasanya seperti ayam, telur atau sayuran. Namun, untuk bumbu dapur jarang yang memesan.
“Kalau belanja online ya yang pedagang besar saja yang laku, pedagang pengecer seperti saya tidak pengaruh. Lagi pula nanti siapa yang mengantar belanjaan, saya ke pasar saja naik angkutan umum,” tuturnya.
Suasana di Pasar Wage memang terlihat landai, tidak ada peningkatan aktivitas. Sebaliknya justru keramaian menurun dibanding hari biasa.