Harga Komoditas Jagung di Gunungkidul Anjlok

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Di tengah pandemi Virus Corona, sejumlah warga masyarakat di Kabupaten Gunungkidul saat ini lebih banyak mengandalkan hasil bumi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pasalnya sebagai warga terdampak Covid-19, mereka tidak bisa lagi mendapatkan pemasukan dari hasil berjualan sebagaimana biasanya.

Sayangnya, di tengah kondisi sulit seperti saat ini, sejumlah warga yang berprofesi sebagai petani justru semakin dirugikan dengan anjloknya harga jual hasil komoditas pertanian. Hal itu tentu menjadi kerugian tersendiri karena mengakibatkan penghasilan warga sebagai petani semakin kecil.

Salah satu komoditas pertanian yang mengalami penurunan harga jual cukup signifikan adalah jagung. Harga komoditas jagung yang biasanya berkisar Rp3.800-Rp4.000 per kilogramnya, saat ini anjok menjadi sekitar Rp3.100-3.300 per kilogramnya. Padahal disamping kedelai dan kacang, jagung merupakan komoditas andalan warga Gunungkidul menjelang musim kemarau seperti saat ini.

“Karena sedang musim panen, harga jual jagung turun menjadi hanya Rp3.100-3.300 saja. Padahal biasanya bisa sampai Rp4.000. Itu untuk jagung pipil yang sudah dipisahkan dari bongkolnya,” ujar salah seorang petani warga dusun Pringwulung, Krambilsawit Saptosari Gunungkidul, Dipowono.

Mbah Dipo sendiri mengaku memilih menyimpan sementara jagung hasil panen miliknya untuk dijual saat benar-benar membutuhkan. Dari dua petak ladang yang dimilikinya, ia menyebut mampu mendapatkan hasil panen jagung sebanyak kurang lebih 4 kuintal.

“Ya mau disimpan dulu, nanti dijual kalau sudah benar-benar butuh duit untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sambil menunggu harga jual jagung mulai naik,” katanya.

Lihat juga...