Benturan Lampu Ajaib di Inggris

Catatan Ringan Akhir Pekan, T. Taufiqulhadi

T. Taufiqulhadi (CDN/Istimewa)

Sebagai fan fanatik Mancherster City dalam beberapa tahun terakhir ini, perasaan saya agak terganggu dengan kehadiran pria yang disering disebut MBS. Putra Raja Salman dari Arab Saudi ini sukses membawa Covid-19 ke dekat hidung pemilik lama Newcastle United, yang mebuat Mike Ashley  buru-buru melepas klub itu ke pelukan putra mahkota dari Arabi.

Padahal, urusan untuk jatuh cinta kepada klub kota Manchester ini bukan perkara mudah. Karena, seperti penjelasan teman-teman yang telah lebih dahalu nge-fan kepada sebuah klub hebat Eropa lainnya, harus dipikirkan matang-matang; harus hati-hati persis seperti memilih istri. Misalnya, apakah klub ini bakal kalah saban hari atau tidak;  fan klub-nya ada atau tidak di sekitar erwe (RW) kita atau tidak; barang-barang cenderamatanya berkesan anggun atau tidak — meski mudah didapat, tapi  kalau dijual dekat pasar ayam, itu pasti tidak berprestis.

Jadi, menjadi fan grup-grup hebat ini, walau belum sekali pun pernah menyentuh pintu pagarnya, jangan bikin malu. Kalau nobar, pakailah baju sesuai warna klub. Jangan sampai warna klub sendiri biru, tapi kita mengenakan warna hijau dengan kain sarung. Ini, kata sepupu saya dengan penuh lagak, melaggar estetika dan peradaban.

Membantah pendapat putra tante saya yang lulusan akademi pelayaran ini tidak enak. Tapi, saya hanya mengelus-elus dagu yang tak berjenggot ketika mendengar istilah “perabadan”.

GM di sebuah perusahaan palayaran dan gembar-gembor pernah menangkap berton-ton cumi-cumi sebesar kambing di perairan dekat Selandia Baru ini, ia tidak tahu saja. Hanya keluarga kerajaan Inggris, baik laki-laki maupun perempuan, begitu lahir harus segera “dibaptis” menjadi fan Aston Villa.

Tapi, para gentlemen Inggris lainnya yang berbudi dan penuh martabat, akan menjauhi sepakbola seperti menjauhi kerumunan manusia yang terpapar Covid-19.

Dikarenakan sering menghadiri acara fan klub, yang kebanyakan anggotanya para karyawan kantor pialang, aktivis parpol dan sedikit mahasiwa itu, saya belajar sedikit tentang perihal sepakbola sekitar klub favorit saya ini.

Gaya sepak bola di Inggris itu rupanya sangat kaku seperti aktivis partai Konservatif yang baru belajar politik. Tidak menarik dan membosankan. Maka, agar lentur dan sedikit enak ditonton, klub-klub Inggris itu sering mengontrak  para pemain dari Prancis, negeri seberang Selat Inggris.

Tapi, klub-klub Inggris bersikap agak antipati kepada para pemain Italia. Meski prianya penuh gaya, yang bisa membutuhkan waktu berjam-jam  di depan cermin sekadar mematut-matut warna kaos kaki agar sesuai dengan warna tali pinggang, paradoks 180 derajat dengan gaya sepakbola mereka. Gaya permainan bola Italia itu dijauhi semua penggemar sepakbola di negeri Ratu Elizabeth.

Dari sebelas manusia bertampang menawan dengan rambut tersisir rapi itu, nyaris semua mereka dipaksa bertugas berdiri di depan gawang, dan satu orang yang dilepas untuk menjelajah ke depan. Jika pemain belakang tersebut mendapat bola, langsung melepaskan tendangan menyeberang lapangan kepada pemain sebatang kara di depan, yang berusaha sendiri untuk menceplos bola ke gawang lawan.

Dapat dibayangkan, nyaris dalam semua pertandingan segala divisi Italia, terjadi paceklik gol. Jika kemasukan satu gol, itu sudah luar biasa.

Sebagai ganti mereka mencari cara lain yang tidak masuk bagian teknik bermain bola seperti menjatuhkan diri tiba-tiba, kemudian bangkit dan  mengakat tangan seraya berucap “Mama Mia”. Mana tahu wasit terpengaruh, dan menghadiahkan tendangan penalti kepada klubnya.

Dengan demikian, para pemain Italia tahun 1970-an, selain harus bisa nendang,  juga harus bisa memasang mimik memelas yang dibarengi uacapan “Mama Mia” pada momen yang tepat.

Tidak heran, para pemain Italia ini sungguh-sungguh berada dalam doa setiap pencinta sepakbola Inggris siang dan malam, agar jangan sampai muncul di lapangan mereka seperti para pemain Prancis.

Sebenarnya  tanpa para pemain “Mama Mia” ini juga, sepakbola Inggris sudah sangat merisaukan: sementara pemainnya kurang gaya di lapangan, tapi para penontonnya kelebihan daya untuk  membuat keributan di luar lapangan.

Para pendukung klub-klub  kota-kota pelabuhan di utara, seperti Liverpool, pasti pulang dengan muka babak belur setelah klub mereka bertanding dengan klub-klub para buruh pabrik di London, seperti Chelsea, dan West Ham United dan lainnya.

Mungkin karena sangat berpengalaman soal membuat masalah, tidak heran Inggris, setelah musik, kembali jadi kiblat cara membuat rusuh bagi penggila bola di negera-negara lain.

Para penggila bola dari negara-negara Eropa Timur, secara periodik “berziarah” ke London untuk melihat perkembangan ritual para hooligan Inggris. Anak-anak muda ini akan mengintip melalui surat kabar, dan kemudian membawa ke negeri mereka varian hoologanisme Inggris.

Maka, di ibu kota negara-negara blok Timur itu akan muncul anak-anak muda dengan pakaian jeans lusuh yang berantai besar di pinggang, lengkap dengan sepatu kets putih.  Rambut dicukur model musang tengkurap di atas kepala, persis seperti pecinta sepakbola di Inggris.

Seraya menamakan diri “Ultra  bad Boys” yang dicomot dari koran di  London, anak-nak muda pendukung klub Red Stars di Beograd  bernyanyi: “Kampak di tangan/ belati di gigi/ akan terjadi pertumpahan darah malam ini”, seraya membayangkan wajah Franjo Tudjman, presiden Kroasia, yang sangat dibenci di Serbia. Dalam perang Balkan awal 1990-an, markas pendukung Red Stars Beograd sekaligus menjadi markas rekruitmen bagi pemuda-pemuda yang mau berperang di Bosnia.

Inggris juga jadi kiblat bagi kaum perusuh di kota-kota  Braitania Raya lainnya. Di Glagow, Skotlandia, jika Rangers yang  Prorestan berhadap dengan Celtic yang  Katolik, para penggila kedua ke dua belah pihak telah mempersiapkan diri seminggu pertandingan berlangsung: bagaimana cara menyelundupkan batu dan bagaimana cara menyembunyikan pisau.

Sepanjang pertandingan, mereka akan mengintimidasi dan memprovokasi dengan lagu: Hallo, hallo, kami ini Billy Boy (yang mereka maksudkan adalah geng yang menghabisi umat Katolik Slotlandia antara PD I dan PD II), dan diakhiri dengan berteriak “Mampus Paus”.

Pendukung Celtic pun tidak tinggal diam, akan menyanyikan lagu “You’ll Never Walk Alone” yang dipopulerkan oleh Richard Rodgers, dan diakhiri dengan sumpah serapah “Mati kau ratu”.

Maka, tak heran pada awal mulanya para elit Inggris memandang sepakbola dengan angkuh dan menghina. Bagi mereka, olah raga yang meski lahir di kampung mereka ini, tidak lebih dari sejenis  keramaian untuk mengundang manusia-manusia terjepit ekonomi untuk saling pukul. Jika ada sebentuk orang yang membenci kekerasan, pasti ia lari terbirit-birit dari  olah raga kaum buruh dan kuli kapal ini.

Di negeri yang penuh estetika dan peradaban ini, seperti kata sepupu saya di atas, jika ada ada 10.000 manusia masuk stadion, 6.000 ingin membuat keributan, 4.000 lagi ingin menonton keributan.

Kenapa mereka sangat suka kepada kekekarasan?

Menurut sosiolog yang sepaham dengan para elit ini, klub-klub  di Inggri Raya ini, awal pembentukannya adalah sebagai wadah bergembira bagi kaum marjinal, seperti buruh pabrik atau buruh galangan kapal.

Tapi, tiba-tiba lapangan kerja mereka direnggut ketika pabrik-pabrik dan galangan kapal itu direlokasi ke berbagai negara lain yang lebih murah ongkos produksinya.

Terenggut pendapatan mereka, serta hancur pula ego patriarkis mereka dalam keluarga, membuat mereka mencari saluran lain untuk menegakkan eksistensinya.

Di akhir era tahun 1980-an, Inggris didominasi Tory, yang menghadirkan pemimpinnya yang garang sebagai perdana menteri, Margareth Thatcher. Perempuan ini bukan hanya ditakuti sampai ke Malvinas, tapi ia kesohor pula karena angkuh tidak kepalang di depan para pecinta bola Inggris.

Menganggap dirinya sebagai penggotong nilai-nilai konsevatif tanpa cela dan tak tertandingi ini, sepanjang karir politiknya, perempuan yang dijuluki “kupu-kupu besi” ini bersumpah akan mengemplang semua batok kepala kaum pembuat onar yang tak tahu diri itu.

Di mata Thatcher, yang walau moyangnya menjajah seluruh dunia, para pembuat onar ini benar-benar tak berguna, karena gagal total memahami nilai-nilai Inggris yang luhur dan penuh kelembutan tersebut.

Ibu PM yang keras perangai ini, pada tahun 1989 memutuskan untuk  bertindak kepada olah raga kaum rendahan ini, menyusul tragedi Hilborough, Shaffield. Dalam pertandingan antara Liverpool dan Nottingham Forest, 95 orang tewas karena kehabisan napas dan terinjak-injak. Tragedi ini terjadi karena pengunjung yang kelewat banyak itu dijejalkan saja sepeti ikan sarden dalam taras yang tidak memenuhi syarat.

Merespons tragedi itu, Thatcher meraung, memerintahkan semua klub di Inggris menggantikan teras berdiri dengan tribun yang ada tempat duduk seperti dalam bioskop. Jika menolak, klub-klub itu segera harus membubuhi tanda almarhum di depannya.

Tak pelak, persyaratan baru ini benar-benar membalik ekonomi dunia sepak bola Inggris. Kebanyakan klub itu dimiliki para pengusaha kecil. Ketika persyaratan ini diberlakukan, sebagian besar klub jadi kalang kabut, dan harus menjual atau mencari mitra untuk mendata uang yang bejibun. Maka dalam situasi itu, datanglah orang-orang kota yang banyak duit dan memiliki penciuman kuat untuk menambah uang di dunia kaum hooligan ini.

Para pembawa uang dari kota ini selain membuat tribun baru, juga menambah ruangan-ruangan mewah di bawahnya, yang disewa kepada perusahaan-perusahaan kaya. Ruangan-ruangan mewah ini akan ditempati para pembeli tiket VIP sebelum pertandingan dimulai dan ketika jam istirahat, dan di ruangan mewah itu, pemegang tiket VIP akan dilayani sekelas layanan dalam kapal pesiar milik para syeikh dari Timur Tengah.

Pererusahaan kaya di atas, kembali dapat uang karena memberi layanan yang hebat yang dipenuhi wine, whisky, berjenis-jenis makanan laut dan daging ditambah buah-buahan enak dari seluruh dunia kepada penonton kaya.

Para investor ini menggenjot harga saham klub di pasar bursa efek, harga tiket mereka naikkan, mereka jual hak siar liga kepada layanan TV milik Rupert Murdoch. Dengan demikian, gagasan Thatcher berjalan sempurna.

Jenis suporter baru yang lebih kaya menggantikan jenis lama, yang senang main gebuk. Perempuan-perempuan pun, seperti JK Rowling yang menulis Harry Potter, ikut antre beli tiket. Ia tidak khawatir lagi, meski berada di tengah hooligan paling ganas di muka bumi, para fan the  Hammer.

Perubahan-perubahan di Inggris menjalar seluruh Eropa: ada stadion mewah, ada ruangan mewah dengan berbagai jenis makan saat waktu istirahat, ada saham yang digoreng di pasar efek, dan ada hak siar. Dan, mengikuti perkembangan uang klub ini, bukan hanya tiket yang melejit, tapi bandrol para para pemain pun ikut meroket dengan dahsyat.

Setelah kebijakan Thatcher ini, para pemain bermimpi siang dan malam agar mereka dibajak oleh klub-klub yang brangkasnya penuh uang. Mereka bermain memang benar demi uang. Kapitalisme telah menyergap dunia persepakbolaan, yang tidak sepadan sekadar upaya menggantikan hooliganisme.

Setelah wajah sepak bola Inggris berubah banyak karena urusan uang, saat itulah Syeikh Mansour, adik lain ibu dari amir Abu Dhabi atau presiden Uni Emirat Arab (UEA) sekarang, Syeikh Khalifa bin Zayed al- Nahyan, masuk ke Inggris.

Dikategorikan sebagai politisi dan sekarang menjabat sebagai wakil Perdana Menteri UEA, Syekh Mansour menggelontor uang tak kepalang besarnya untuk memiliki klub dari kota Manchester itu. Walaupun dengan uang sangat besar, pembelian Manchester City disanjung setinggi langit oleh para amir di Abu Dhabi secara umum.

Membeli klub-klub sepak bola Eropa bukan sekadar urusan prestis, tapi sekaligus entitas politik baru bagi negara-negara kecil di teluk. Selama ini, saking kecil negara-negara mereka, urusan kebijakan politik luar negeri mereka dikooptasi semua oleh negara besar yang menjadi tetangga mereka, Arab Saudi. UEA, Qatar, Kuwait, dan Bahrain nyaris tidak memiliki politik luar negeri sendiri. Politik luar negeri mereka adalah politik luar negeri Arab Saudi. “Jangan neko-neko, yang penting ente aman semua,” kata Riyadh, yang pada gilirarannya berada di bawah supervisi ketat Washington.

Qatar yang telah menggantikan pemimpinan ke tangan generasi muda lulusan Inggris, Syeikh Tamim bin Hamad al Thani, ogah selalu jadi objek politik Arab Saudi. Ia melawan dengan cara memberi payung kepada sejumlah aktivis Ikhwanul Muslimin yang melarikan diri Mesir, menjalin hubungan dagang dengan Iran, dan untuk tidak membuat AS marah, ia juga memiliki hubungan yang baik dengan Israel.

Akibat langkah ini, Qatar dimusuhi Arab Saudi. Setelah mendapat cap sebagai negara pendukung terorisme, Saudi dengan mengajak semua bawahannya, UEA, Kuwait, Bahrian plus Mesir untuk memboikot Qatar.

Meski UEA dekat dengan Saudi, tapi para emir dalam Abu Dhabi bukan tidak mendongkol kepada keluarga as Saud yang senang mendikte. Maka, membeli klub Inggris di Manchester ini adalah koridor negara-negara keemiran kecil ini untuk sedikit keluar dari tekanan politik di Teluk ini.

Qatar dan Abu Dhabi bangga sekali dengan kemampuan mereka menghadirkan kapital yang menggunung ke Eropa, yang mereka tanam di olah raga yang paling populer di dunia Arab ini. Kebanggan ini disimbolkan dengan dipampangnya wajah-wajah paling populer di kolong langit, seperti wajah Naymar, Mbappe di bandara Hamad di Doha, dan wajah Sterling, De Bruyne di bandara Abu Dhabi.

Tapi, tiba-tiba keluarga as Saud masuk juga ke Inggris membuntuti keluarga al Nahyan dengan mengambil Newcastle United. MBS pasti sudah belajar banyak dari al Nahyan di keberhasilan Manchester City.

Dalam dunia sepak bola sekarang, kunci sukses hanya ada satu: jangan pelit kepada duit. Agaknya kunci ini tidak sulit dipenuhi oleh MBS, calon raja Arab Saudi yang bergelimang uang. Maka, mata dunia segera akan melihat persaingan sepok bola di liga primer Inggris dan piala UEFA, antara klub-klub yang uangnya datang dari perut bumi Arabia. Itulah yang disebut dengan the clash of Aladin’s Magic Lamp (benturan lampu ajaib Aladin) di bumi Eropa. (Pejaten Barat, 19 April 2020)

Lihat juga...