Petani di Lamsel Simpan Gabah Untuk Kebutuhan Ramadan
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Sejumlah petani padi di Kabupaten Lampung Selatan, memilih menyimpan padi hasil panen masa tanam pertama (MT1). Hal ini dilakukan sbagai persiapan kebutuhan sendiri saat Ramadan dan Idulfitri nanti.
Nurjanah, salah satu pemilik lahan padi di Desa Padan, Kecamatan Penengahan, menyebut penyimpanan hasil panen dilakukan usai proses pengeringan. Pada lahan setengah hektare ia mengaku mendapat hasil sekitar 3 ton.
Menurut Nurjanah, padi varietas Ciherang yang dipanen usia 110 hari dipanen sepekan sebelum Ramadan. Sebanyak 1 ton gabah kering panen (GKP) tetap dijual olehnya untuk biaya operasional, dan sisanya disimpan. Sebab, selama masa MT1 sejumlah biaya pemupukan, obat, pengolahan diperoleh dengan cara berutang. Hasil penjualan gabah digunakan untuk membayar utang kepada toko pertanian.
Pada masa panen MT1, ia menyebut harga GKP mencapai Rp3.900 per kilogram. Harga tersebut lebih rendah dari masa tanam ke tiga (MT3) yang mencapai Rp4.500 per kilogram. Masa panen berbarengan dengan musim penghujan mengakibatkan kadar air tinggi. Meski panen musim penghujan, Nurjanah tetap menyimpan gabah usai dijemur. Ia memilih menyimpan gabah kering giling (GKG).

“Sebanyak dua ton gabah yang masih saya miliki disimpan di lumbung untuk kebutuhan keluarga selama bulan Ramadan dan Idulfitri, sebab keluarga besar sedang berkumpul,” terang Nurjanah saat ditemui Cendana News, Senin (20/4/2020).
Keputusan Nurjanah menyimpan hasil panen padi pada MT1, juga imbas pandemi Corona. Dua anaknya yang sementara dirumahkan dari pekerjaan membuat kebutuhan beras meningkat. Gabah yang disimpan di lumbung selanjutnya akan digiling, sebagian dijual dalam bentuk beras. Ia menyimpan gabah untuk kebutuhan sendiri dibanding harus membeli beras.
Di tempat penggilingan padi, Nurjanah menyebut harga beras mencapai Rp9.400/Kg. Sementara beras di level pengecer bisa mencapai Rp10.500 per kilogram. Mendekati masa puasa Ramadan, ia menyebut potensi harga beras bisa merangkak naik. Terlebih dalam kondisi pandemi Corona, kebutuhan masyarakat yang bekerja dari rumah akan meningkat.
“Masa panen tahun ini stok gabah diprediski bisa untuk kebutuhan enam bulan lagi, sembari menunggu masa tanam berikutnya,” imbuhnya.
Herman, petani padi lainnnya di Desa Tanjungheran, juga mengaku menyimpan GKP untuk kebutuhan keluarga. Menghasilkan sekitar 6 ton pada lahan seluas satu hektare, ia menjual 3 ton GKP dan sisanya disimpan. Penjualan gabah untuk memenuhi kebutuhan biaya pendidikan sang anak yang duduk di bangku kuliah.
Padi varietas Ciherang yang dihasilkan pada masa MT1, menurutnya cukup memuaskan. Kualitas gabah yang baik tanpa serangan hama membuat ia memilih menyimpan di lumbung. Sebab, masa tanam sebelumnya, serangan hama wereng berimbas kualitas gabah buruk. Hama wereng berimbas gabah berwarna hitam dan saat digiling beras yang dihasilkan berwarna hitam.
“Saat panen berbarengan dengan pandemi Corona dan jelang Ramadan, pilihan menyimpan hasil panen sangat tepat,” tuturnya.
Menjual hasil panen sebanyak 3 ton, Herman mendapat hasil Rp11,7 juta dengan per kilogram dibeli pengepul Rp3.900. Hasil penjualan digunakan untuk membayar semester kuliah sang anak, biaya kontrakan.
Selain, itu ia memanfaatkan hasil penjualan gabah untuk menutupi biaya operasional pascapanen. Sebab, sistem panen yang digunakan memakai mesin dos dengan borongan mencapai Rp3juta.
Pemilik lahan seluas seperempat hektare, Ahmad, menyebut tidak pernah menjual gabah. Menghasilkan sekitar 1,5 ton GKP, ia memilih menyimpan gabah hasil panen. Hasil panen tersebut digunakan untuk kebutuhan keluarga hingga panen berikutnya. Ia memilih menyimpan gabah dibanding harus membeli beras.
Selain disimpan untuk kebutuhan keluarga, sebagian gabah bisa digunakan untuk bibit. Usai proses pemanenan pada MT1, Ahmad menebarkan jerami pada lahan miliknya.
Usai jerami dikeringkan lalu dibakar, ia bisa melakukan perendaman lahan dengan air. Sistem irigasi lancar dari kaki Gunung Rajabasa membuat ia bisa melakukan proses penanaman tiga kali dalam setahun.