Aman Berpuasa bagi Penderita Diabetes
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Bagi para penderita diabetes, seringkali muncul keraguan untuk melakukan puasa. Risiko mengalami hipoglikemia maupun hiperglikemia sering menjadi alasan.
Dewi (48) menyatakan keraguannya untuk berpuasa pada bulan Ramadan tahun ini. Karena ini adalah puasa pertama semenjak dirinya dinyatakan diabetes.
“Katanya kalau diabetes tidak boleh puasa. Karena takut tengah-tengah puasa nanti pingsan,” kata Dewi saat webinar PAPDI, Kamis (23/4/2020).
Hal senada juga dinyatakan oleh Reviana, yang mengaku semenjak dinyatakan diabetes, dua tahun lalu, juga tidak pernah berpuasa selama bulan Ramadan.
dr. Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD, K-PTI, FINASIM, KIC menyatakan, kondisi diabetes itu adalah karena gula darah meninggi sebagai akibat tubuh tak dapat memakan gula itu.
“Sehingga tubuh memproduksi terus, maka gula akan menumpuk di darah,” kata dr. Ceva.
Ia menyatakan gula darah yang normal ada pada angka 90-140. Jika angkanya menurun, maka akan terjadi hipoglikemia, jika meningkat maka akan terjadi hiperglikemia.
“Kalau hipoglikemia, penderita akan keringat dingin, kunang-kunang, kejang dan tak tertutup kemungkinan untuk menjadi tidak sadar,” urainya.
Sementara, jika hiperglikemia, maka penderita akan merasakan penglihatan kabur, sakit kepala, peningkatan kelelahan dan kehausan.
dr. Ceva menyatakan bahwa penderita diabetes tidak dilarang untuk melakukan puasa, karena sejatinya, berpuasa itu bagus untuk sistem detoksifikasi tubuh.
“Tapi ada beberapa yang disarankan untuk tidak berpuasa. Yaitu diabetesi dengan insulin dua kali sehari, diabetesi hamil, orang tua yang tidak memahami kondisi hipoglikemia dan hiperglikemia, yang pernah mengalami ketoasidosis, yang memiliki penyakit lain, seperti ginjal, jantung, hati maupun hipertensi, memiliki riwayat drop gula darah di ramadan tahun lalu dan DM tipe 1 yang tidak terkontrol,” paparnya.
Jika di luar kondisi itu, dr. Ceva menyatakan penderita diabetes bisa berpuasa dengan selalu memperhatikan diet diabetes.
“Hindari makanan yang digoreng. Perbanyak sayuran, oat, beras merah dan buah. Jangan lupa untuk selalu periksa kadar gula darah. Apalagi sekarang sudah banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk memantau kadar gula darah,” ujarnya.
Pengaturan makan harus menjadi prioritas, lanjutnya. Selain memperhatikan apa yang dikonsumsi, juga harus selalu mematuhi aturan rentang waktu dua jam dari waktu makan ke waktu tidur.
“Jadi dibaginya begini, sahur itu 40 persen, buka 50 persen, dengan 10 persen untuk takjil dan 40 persen untuk makan setelah maghrib dan 10 persen lagi setelah tarawih. Jangan mentang-mentang sudah puasa, begitu berbuka malah balas dendam,” urainya.
Ia juga menekankan pentingnya mengkonsumsi karbohidrat kompleks saat sahur, seperti roti gandum.
“Kenapa? Karena karbohidrat kompleks ini lebih lama dicerna dan diserapnya. Jadi kebutuhan kalori tubuh akan dapat terpenuhi sepanjang hari. Dan usahakan sedekat mungkin dengan waktu akhir sahur,” pungkasnya.