Upaya Lapas Malang Hidupkan Suasana Ramadan di Masa Covid-19

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Bagi umat muslim, pelaksanaan ibadah puasa bulan Ramadan tahun ini dirasa sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya ketika tidak ada pandemi wabah Covid-19.

Kegiatan ibadah bulan Ramadan yang biasanya bisa dilakukan bersama, sekarang terpaksa harus dibatasi dengan penerapan aturan physical distancing.

Hal yang sama juga berlaku dan dirasakan Warga Binaan (WB) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1 Lowokwaru Malang.

“Kalau dalam kondisi normal, ibadah tarawih bisa dilakukan bersama di masjid dengan mengundang penceramah dari luar lapas. Tapi dalam kondisi pandemi covid-19 seperti sekarang, semua ibadah seperti tarawih maupun membaca Al-Quran bisa dilakukan WB di kamarnya masing-masing. Sesuai dengan surat edaran direktur jenderal agar kegiatan yang sifatnya berkelompok bisa diminimalisir,” jelas Kalapas Klas 1 Malang, Anak Agung Gde Krisna, ditemui di Lapas Klas 1 Lowokwaru Malang, Kamis (23/4/2020).

Kalapas Klas 1 Malang, Anak Agung Gde Krisna, saat ditemui di Lapas Klas 1 Lowokwaru Malang, Kamis (23/4/2020). Foto: Agus Nurchaliq

Lebih lanjut menurut Agung, selama bulan suci Ramadhan, Lapas klas 1 Malang juga membuat kebijakan untuk melakukan pemisahan kamar antara WB muslim dan non-muslim. Kebijakan ini diambil guna menghormati WB muslim yang sedang melaksanakan ibadah puasa.

“Jadi WB yang non-muslim ini dikelompokkan dan dikumpulkan satu kamar karena jadwal makan mereka sama seperti hari biasa, tiga kali makan. Sedangkan WB muslim bisa makan ketika sahur dan berbuka ditambah dengan ekstra puding yang disiapkan dari kantor. Dengan begitu diharapkan WB yang tidak berpuasa tetap bisa makan seperti biasa sehingga tidak mengganggu WB lainnya yang sedang berpuasa,” tandasnya.

Sementara untuk pemberian makan sahur sebenarnya menurut Agung hampir sama seperti sarapan pagi, hanya waktunya saja yang dimajukan. Kalau hari biasa sarapan dilakukan pukul 07.00 – 08.00 WIB, pada bulan Ramadan khusus WB muslim akan diberikan sebelum subuh atau pada saat sahur sekitar pukul 03.00 WIB.

“Di luar itu, hampir semua aktivitas WB di lapas tetap berjalan seperti biasa. Pembinaan dan pelatihan keterampilan juga tetap berjalan. Yang tidak berjalan adalah akses untuk keluar lapas contohnya sidang karena sudah dilakukan secara online,” ungkapnya.

Kemudian untuk kunjungan juga dilarang bertemu secara langsung. Tapi kalau barang titipan dari keluarga tetap bisa diterima oleh WB dengan SOP pemeriksaan barang oleh petugas.

“Kalau warga binaan kangen dengan keluarganya, mereka bisa melakukan video call dari sarana wartel yang sudah kita siapkan,” sebutnya.

Selain itu agar suasana Ramadan tetap terasa di dalam lapas, pihaknya akan memutarkan lagu-lagu islami atau ayat-ayat suci Al-Quran melalui speaker.

“Supaya suasana Ramadan tetap terasa, seluruh pegawai lapas diminta untuk menggunakan kopiah maupun jilbab. Dan teman-teman yang tidak puasa wajib menghormati yang puasa. Yang jelas saya tidak mau kehilangan momen Ramadan di dalam lapas,” pungkasnya.

Lihat juga...