Pantai Puri Dewata Ramai Dikunjungi
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Sehari usai Hari Raya Kuningan atau Tumpek Kuningan bagi umat Hindu, ada rahina Umanis Kuningan. Libur akhir pekan saat Kuningan pun berdampak meningkatnya kunjungan wisatawan ke objek wisata bahari pantai Puri Dewata di Desa Tridharmayoga, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan.
I Wayan Setiasih, pemilik warung di pantai Puri Dewata, menyebut usai sepuluh hari merayakan hari raya Galungan dan Kuningan, warga ingin bersantai bersama keluarga. Kawasan pantai di pesisir timur Lamsel berjarak sekitar ratuan meter dari jalan lintas timur Lampung pun menjadi pilihan warga.
Menurutnya, pengunjung dominan berasal dari sejumlah desa di Lamsel dan sebagian dari Lampung Timur. Pantai dengan jajaran pohon ketapang, cemara yang teduh menjadi pilihan untuk bersantai. Pntai dengan kontur yang datar, ombak tenang cocok untuk wisata keluarga. Sejumlah pedagang musiman memilih berjualan di sekitar pantai.

“Pantai Puri Dewata kerap ramai saat akhir pekan, dan bagi warga yang usai merayakan Kuningan dilanjutkan dengan rahina Umanis Kuningan yang banyak diisi dengan silaturahmi, jalan-jalan atau matirthayatra ke berbagai pura,” terang I Wayan Setiasih, saat ditemui Cendana News, Minggu (1/2/2020).
Objek wisata bahari di pantai timur Lamsel tersebut kerap dikunjungi wisatawan keluarga. Sebagai pedagang makanan dan minuman ringan di lokasi wisata, ia memastikan omzet penjualan meningkat. Pada hari libur biasa ia hanya bisa mendapat omzet di bawah Rp300 ribu. Saat libur usai Kuningan, omzet bisa lebih dari Rp500 ribu, karena pengunjung bisa mencapai ratusan orang.
Suprapto, penyedia sewa ban di pantai Puri Dewata, mengaku memanfaatkan banyaknya kunjungan wisatawan didominasi anak anak bersama keluarga dengan menyewakan ban sebagai pelampung. Tradisi bersilaturahmi dengan kerabat sembari menikmati suasana pantai berimbas ia bisa mendapat penghasilan.
“Penyewaan ban sebagai pelampung memanfaatkan waktu liburan cukup menguntungkan,” beber Suprapto.
Suasana perayaan Kuningan di wilayah Ketapang masih terlihat di sejumlah desa. Agung Putra, pemangku atau pandita Pura Amerta Sari, menyebut sebagian warga masih memasang penjor di sepanjang jalan. Kuningan yang menyimbolkan kebahagiaan dan kesejahteraan masih terlihat di depan rumah warga.
“Hari raya Kuningan yang telah kami rayakan memiliki makna untuk intropeksi diri, sekaligus melakukan persembahyangan,” cetus Agung Putra.
Salah satu kegiatan usai Kuningan, menurutnya dilakukan dengan Matirthayatra ke pura. Sebagian umat masih berdoa di pura Amerta Sari sebelum silaturahmi dan jalan-jalan. Manis kuningan, manis hidup ini dilakukan oleh umat dengan saling berbagi. Keceriaan saat Umanis Kuningan dilakukan dengan saling mengunjungi saudara atau berwisata.
Kegiatan berwisata, menurut Agung Putra menjadi bagian berbagi kebahagiaan. Di sejumlah desa adat yang didominasi oleh umat Hindu seperti di Desa Sripendowo dan Sumber Nadi, disiapakan tradisi malelawang.
Kegiatan malelawang dilakukan dengan tarian barong bangkung oleh anak-anak. Cara tersebut dilakukan untuk meramaikan Umanis Kuningan dilanjutkan dengan berwisata ke pantai.