Keamanan RDE Hasil Anak Bangsa Tuai Pujian dari Mancanegara
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
JAKARTA — Reaktor Daya Eksperimental (RDE) yang saat ini sedang dipersiapkan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dinyatakan paling tinggi tingkat keamanannya. Berbasis pada tipe reaktor High Temperature Gas Cooled Reaktor (HTGR) yaitu PLTN Generasi 4. Tak tanggung-tanggung, RDE buatan anak bangsa ini berhasil menuai pujian dari ahli nuklir mancanegara.

Peneliti Senior BATAN Geni Rina Sunaryo menyebutkan salah satu keselamatan yang penting di PLTN adalah sistem pendingin reaktornya. Dalam hal ini, PLTN G-4, menggunakan sistem pendingin pasif. Artinya, jika PLTN berhenti mendadak, saat mana panas bahan bakarnya masih sangat tinggi, maka reaktor bisa mendinginkan diri sendiri.
RDE sudah menggunakan sistem pendingin pasif. Media pendinginnya bukan air seperti PLTN Chernobyl dan Fukushima. Tapi gas helium yang memiliki titik didih dan titik beku paling rendah. Pada suhu ruangan, helium berwujud gas. Helium baru akan mencair jika didinginkan hingga suhu sangat ekstrem, minus 268,9 derajat Celsius. Sedangkan untuk memadatkannya, suhu yang dibutuhkan lebih ekstrem lagi yaitu minus 272,2 derajat Celsius.
“Sehingga jika terjadi gangguan, maka RDE akan secara otomatis mendinginkan dirinya sendiri,” kata Geni saat dihubungi, Rabu (4/3/2020).
Desain RDE yang dibuat Indonesia mendapat acungan jempol dari dunia internasional. Ekspose dan panggung RDE jadi primadona pada General Conference IAEA di Vienna, Austria, 17-21 September 2018 lalu.
“IAEA memberikan apresiasi tinggi terhadap RDE. Lalu membantunya dengan payung technical cooperation. Berkat RDE ini pula Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah konferensi internasional tentang “High Temperature Reactor 2020″ akan datang di Yogyakarta,” ucap Geni.
Berkat RDE, tawaran kerjasama pun berdatangan. Seperti Joint Lab dengan China di Tsinghua University. Tsinghua University adalah universitas terbaik di Cina dan terkenal dengan kemampuan teknologi nuklirnya. Amerika Serikat juga minat kerjasama mengembangkan RDE.
Batan mendedikasikan RDE untuk memenuhi kebutuhan suplai energi listrik di Kawasan Indonesia Timur (KIT). Misal, untuk supplai listrik pada smelter di pertambangan emas Freeport, Timika, Papua atau pertambangan nikel di Morowali, Sulawesi Tengah. Juga untuk kebutuhan energi lain yang spesifik dalam jumlah yang tak terlalu besar. Karena RDE adalah PLTN mini yang produksi listriknya berkisar 3 MWe, atau setara dengan 10 MWatt.
Selain sebagai reaktor daya, panas RDE bisa dimanfaatkan sebagai mesin desalinasi untuk mengubah air laut jadi air tawar, juga untuk memproduksi hidrogen dan mencairkan batu bara. Bentuknya yang mini menjadikannya cocok dibangun berdampingan dengan PLTU dan PLTD.
“Lebih terintegrasi dan efisien serta sangat penting karena RDE akan memperkuat program bauran energi nasional. Jika Indonesia bisa membangun RDE di pulau-pulau terpencil yang berserakan di nusantara, niscaya ketahanan nasional makin kokoh,” pungkasnya.