Pembiayaan dan Teknologi, Kunci Peningkatan Survival Rate Luka Bakar

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

JAKARTA — Penanganan kejadian luka bakar di Indonesia, seringkali terkendala oleh kurangnya pengetahuan masyarakat tentang cara yang tepat dalam melakukan penanganan awal. Ditambah dengan masih kurangnya teknologi dan pembiayaan.

Data Riskesdas 2013 mencatat luka bakar menempati urutan ke-6 penyebab cedera tidak disengaja dengan prevalensi 0,7 persen. Anak-anak di rentang umur 1-4 tahun merupakan yang paling rentan dengan prevalensi 1,5 persen.

Manager Pelayanan Medis RS Yarsi dr. Afriyanti Sandhi, SPBP-RE, MARS menyatakan kasus luka bakar yang terjadi di Indonesia, umumnya merupakan kombinasi luka bakar grade 2 dan grade 3.

“Kalau grade 2, umumnya akan sembuh dengan sendirinya. Tapi untuk grade 3 biasanya kita lakukan langkah graft dengan cara mencicil,” kata dr. Yanti saat dihubungi, Rabu (19/2/2020).

Proses graft atau skin graft merupakan prosedur pembedahan yang dilakukan dengan mentransplantasikan kulit yang sehat ke bagian tubuh lainnya yang membutuhkan.

“Biasanya itu dilakukan 10-14 hari sekali. Kita ambil kulit yang dibutuhkan dengan cara operasi lalu kita gunakan untuk menutup luka. Memang butuh proses,” ujarnya lebih lanjut.

Di Indonesia sendiri, menurut dr. Yanti memiliki banyak ahli yang kompeten dalam menangani kasus luka bakar ini.

“Tapi memang teknologi yang ada belum support, begitu juga dengan pembiayaannya. Karena tindakan penanganan luka bakar ini memang sangat mahal,” ucapnya.

Ia menyampaikan untuk perbandingan, di Korea ada rumah sakit khusus untuk luka bakar yang berkapasitas 800 bed di 11 lantai.

“Teknologi disana sudah sampai stem-cell, sehingga 90 persen pasien luka bakar itu bisa hidup,” ungkapnya.

Ia memaparkan, di rumah sakit tersebut pasien luka bakar yang datang akan langsung dibuang jaringan nekrotiknya, lalu ditempelkan ADM (Aseluler Derma Matrix).

“ADM ini adalah lapisan kulit seperti dermis yang dibuat dengan teknik rekayasa jaringan untuk mencegah ekstrafasasi, mencegah terjadinya penguapan dan mengurangi sepsis,” urainya.

Harga dari ADM ini, menurutnya cukup mahal.

“Dengan nilai tukar saat ini, harga untuk satu badan itu sekitar Rp300 juta. Kita menggunakannya untuk covering selama 10-14 hari. Karena ADM ini bukan bahan biologis, setelah melewati masa tersebut, akan rontok dengan sendirinya,” paparnya.

Selama ditutup dengan ADM, akan dilakukan pengambilan jaringan kulit yang sehat berukuran 5×5 cm.

“Kulit ini kemudian kita kultur, yang akan menghasilkan lembaran kulit 10×10 cm untuk menutupi luka bakar yang ada,” ucapnya.

Tindakan penanganan luka bakar seperti ini, menurut dr. Yanti sangat bisa untuk diterapkan di Indonesia.

“Kalau menurut saya, di Indonesia juga bisa. Asal ada teknologi dan pembiayaannya. Karena bukan hanya teknologinya saja yang mahal tapi obat-obatannya juga mahal. Baik itu antibiotik maupun albumin,” ujarnya.

Tapi dr. Yanti menyatakan sangat optimis dengan kesiapan dan kemauan Indonesia dalam mempersiapkan penanganan luka bakar di Indonesia.

“Saya optimis, Indonesia akan menuju survival rate yang lebih tinggi dibandingkan sekarang, yang baru mencapai angka 68-70 persen,” pungkasnya.

Lihat juga...