YOGYAKARTA — Ketua Lembaga Advokasi Keluarga Indonesia sekaligus Founder Yayasan Rumpun Nurani, Rennta Crisdiana, mendorong agar isu mental health atau kesehatan mental dapat masuk dalam setiap agenda program kebijakan pemerintah saat ini.
Hal itu dinilai sangat penting dilakukan, guna menyikapi semakin banyaknya masyarakat yang mengalami kondisi gaguan mental hingga berujung pada peningkatan kasus angka bunuh diri di Indonesia sejak beberapa waktu terakhir.
Direktorat Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI beberapa waktu lalu bahkan menyebut, selama tahun 2022 angka kasus bunuh di Indonesia menyentuh 826 orang. Angka ini meningkat 6,37 persen dibandingkan tahun 2018 yakni 772 kasus.
Angka catatan kasus bunuh diri di Indonesia ini relatif jauh lebih tinggi dibandingkan rekor kasus terbanyak Singapura sepanjang 2023 yang sejauh ini tercatat mencapai 476 orang korban. Tak heran, banyak pihak menyebut Indonesia saat ini sedang mengalami kondisi darurat kesehatan mental.
“Sudah saatnya kita harus secara serius mengkampanyekan dan meningkatkan awareness masyarakat terhadap mental health ini, yakni melalui program-program ke kelompok rentan, yang bisa menyentuh ke semua lapisan masyarakat. Karena itu diperlukan gerakan masif oleh semua pihak, termasuk pemerintah,” katanya di Yogyakarta, Sabtu (14/10/2023).
Rennta menyebut banyak faktor yang membuat seseorang mengalami gangguan mental hingga berujung pada bunuh diri. Salah satunya adalah beban hidup di Indonesia saat ini yang semakin berat. Baik itu karena kondisi pandemi, situasi perekonomian yang sulit, termasuk juga situasi politik yang tidak stabil.
Lewat Lembaga Advokasi Keluarga Indonesia, Rennta sendiri mengaku aktif membantu sejumlah kelompok rentan dalam mengatasi masalah kesehatan mental mereka. Salah satunya adalah dengan menyelenggarakan kegiatan layanan konseling gratis, seperti dilakukan pada 14-15 Oktober 2023 hari ini.
Bertempat di Kolektif Collaboration Space, Sleman Yogyakarta, sebanyak 8 konselor profesional dari Temanbaikk dilibatkan dalam kegiatan ini. Selain untuk memberikan layanan konseling pada puluhan individu yang membutuhkan, kegiatan ini juga digelar untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya perhatian setiap individu terhadap kesehatan mental.
Sakti Mutiara, salah satu psikolog Lembaga Advokasi Keluarga Indonesia, menyebut sampai saat ini masih banyak masyarakat yang takut untuk berbicara dan berbagi mengenai berbagai persoalan yang dihadapinya. Hal ini disebabkan karena mereka umumnya tidak percaya dengan konselor, dan masih menganggap persoalan kesehatan mental sebagai aib dan hal tabu untuk dibicarakan.
“Karena itulah perlu adanya upaya untuk mengubah mainset masyarakat, agar setiap orang berani meminta pertolongan ke orang lain, berani berbicara ke orang lain, dan memiliki kepedulian terhadap kesehatan mental dirinya sendiri,” katanya.
Digelar dalam rangka memperingati hari kesehatan mental sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, dalam kegiatan ini juga digelar sejumlah acara, mulai dari webinar kesehatan mental lansia, hingga bedah buku ‘Tisu Penghapus Air Mata Dari Ibu’ Karya Aw Mustofa