Kebutuhan Jagung Pakan di Sumbar 3,1 Juta Ton/Tahun

Editor: Koko Triarko

PADANG – Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Sumatra Barat, mencatat kebutuhan terhadap jagung pakan mencapai 3,1 juta ton per tahun, sedangkan total produksi baru mencapai 985 ribu ton per tahun.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Sumatra Barat, Candra, mengatakan jika jagung pakan ini berhasil dikembangkan di atas lahan 62 ribu hektare, maka setidaknya akan menghasilkan Rp3 triliun lebih per tahun dari hasil penjualannya.

“Di Sumatra Barat, besarnya kebutuhan pakan karena banyaknya masyarakat yang melakukan ternak ayam. Sehingga, kebutuhan pakan ayam dari jagung ini meningkat,” katanya, Senin (6/1/2020).

Menurutnya, di Sumatra Barat hampir seluruh daerah melakukan ternak ayam. Sementara jumlah petani jagung untuk pakan tidak sebanding dengan kebaradaan peternak ayam. Sehingga, pihaknya terus berupaya memperluas lahan jagung.

Candra mencontohkan, melihat hasil panen jagung pakan ayam di Kabupaten Limapuluh Kota, saat ini mencapai 89 ribu ton per tahun. Sementara kebutuhannya 485 ribu ton per tahun. Artinya, masih kurang 397 ton per tahun.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Sumatra Barat, Candra, ditemui di sela kegiatannya di Padang, Senin (6/1/2020)/ Foto: M. Noli Hendra

Diperkirakan, dibutuhkan lahan 62 ribu hektare, sehingga produksinya akan mampu memenuhi kebutuhan lokal. Jika produksi itu berhasil, maka setidaknya akan menghasilkan Rp3 triliun lebih per tahun dari hasil penjualan.

“Ini baru untuk daerah Kabupaten Limapuluh Kota, belum daerah lainnya. Hal inilah yang terus kita dorong kepada para petani,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, mengatakan, keberadaan petani jagung dan peternak ayam, sebenarnya telah mampu saling mendorong pertumbuhan ekonomi. Karena produksi jagung dibutuhkan oleh peternak ayam. Sehingga terjadi saling menumbuhkan perekonomian.

“Baru kemarin saya ke Kabupaten Limapuluh Kota memanen langsung jagung secara perdana. Di sana itu saya berpikir perlu diperluas lahan jagung ini,” ucapnya.

Nasrul juga meminta kepada Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan, agar memberikan bantuan bibit kepada masyarakat yang bertani jagung. Dorongan pemerintah perlu ditunjukkan dengan memberikan bantuan bibit.

“Terkadang petani ada yang terkendala dana untuk membeli bibit jagung, seperti jagung hybrida. Dari sini kita bantu, biar semangat untuk bertani jagung fokus untuk memikirkan produksi yang bagus,” tegasnya.

Dikatakannya, di Limapuluh Kota produksi jagung menggunakan bibit unggul Bisi 18 dan Bisi 79 sukses diuji coba di demplot di Jorong Talago, Nagari Tujuah Koto Talago. Uji coba di demplot ini setelah penanaman dimulai pada 12 Agustus 2019 di atas lahan seluas satu hektare.

 

Kini, hasil bersih jagung setelah dipipil mencapai angka rata-rata 12,6 ton per hektare. Jumlah itu jauh lebih banyak dari hasil panen jagung dengan bibit biasa yang hanya sekitar 6,3 ton per hektare.

“Ini bukti menanam jagung itu cukup menjanjikan. Jadi, bila ada lahan terlantar, baiknya ditanami jagung untuk pakan ayam. Karena akan dapat membantu ekonomi masyarakat,” ucapnya.

Lihat juga...