BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem Masih Sepekan
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, potensi banjir yang terjadi di Jakarta dan beberapa titik lainnya di wilayah Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor.
Kepala Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R Prabowo, menyatakan, bahwa indikasi potensi cuaca ekstrem masih akan terpantau dalam seminggu ini.
“Salah satu yang menyebabkan adalah aktifnya Monsun Asia yang menyebabkan peningkatan massa udara basah di wilayah Indonesia,” kata Mulyono, saat dihubungi, Rabu (1/1/2020).
Ia menjelaskan, Monsun Asia adalah sistem sirkulasi regional yang mempunyai variasi musiman dengan adanya gerak semu matahari terhadap Bumi secara periodik di belahan Bumi utara dan selatan.
Perbedaan tekanan udara di benua Asia dan Australia ini, sangat mempengaruhi kondisi wilayah Indonesia secara keseluruhan. Monsun Asia ini terjadi pada rentang periode Desember hingga Februari.
“Penyebab lainnya adalah terbentuknya pola konvergensi dan perlombaan kecepatan angin di beberapa wilayah,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, bahwa suhu permukaan laut di sekitar wilayah perairan Indonesia cukup hangat, sehingga menambah pasokan uap air dalam jumlah cukup tinggi dalam proses pembentukan awan.
“Fenomena gelombang atmosfer, Equatorial Rosby Wave dan Kelvin Wave yang signifikan juga menambah peningkatan potensi cuaca ekstrem di wilayah Indonesia,” ujarnya.
Dua gelombang atmosfer ini cenderung meningkat aktivitasnya pada kondisi El Nino netral, yang mampu memicu terbentuknya gelombang khatulistiwa dengan periode yang lebih panjang dan berujung pada peningkatan aktivitas konfektif.
Menurut data BMKG, pada periode 1-4 Januari 2020, potensi cuaca ekstrem berpeluang terjadi di Lampung, seluruh pulau Jawa, NTB, NTT, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, seluruh pulau Sulawesi, Maluku dan Papua.
“Kami minta masyarakat untuk mewaspadai curah hujan dengan intensitas lebat yang disertai angin kencang dan petir,” pungkasnya.