Meskipun Kemarau, Petani di Bekasi Tetap Panen Padi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Meski sebagian wilayah di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, diterpa kemarau panjang tahun 2019 ternyata tidak menghalangi petani di Desa Sartiajaya, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat untuk tetap memanen padi.

Tidak ada yang istimewa atau program tertentu yang diterapkan oleh petani setempat. Mereka hanya mengandalkan air dari Kali Jambe dalam mengairi sawahnya dengan cara disedot saat kemarau kemarin. Namun demikian petani mengaku hasilnya tidak maksimal.

“Panen Mas, tapi hasilnya tidak maksimal karena kekurangan air. Sawah di sini menyedot air dari kali Jambe menggunakan diesel. Airnya terkadang kotor dan kering apalagi sekarang lagi penuh sampah plastik,” ujar Nadi, petani di Desa Satriajaya kepada Cendana News, Senin (4/11/2019).

Dikatakan dengan kualitas hasil panen seperti sekarang, pasti harga akan anjlok. Saat ini imbuhnya harga gabah per klio mencapai Rp4800. Dengan hasil panen sekarang tentu harga akan di bawah harga normal.

Menurutnya hasil panen terbilang tidak maksimal banyak butiran padi yang kosong. Akibat dimakan burung. Nadi mengaku apa yang dipanen saat ini adalah sisa hama burung yang begitu banyak, mungkin karena panen tidak berbarengan.

Diakuinya panen yang dilakukan tersebut gagal panen akibat kemarau panjang yang terjadi enam bulan terakhir. Namun demikian Nadi mengaku tidak hanya padi garapannya tetapi sama dengan lainnya.

Ia mengaku tahun ini cuaca sangat ekstrem dan di luar perkiraan yang mengakibatkan hasil panen tidak maksimal atau jauh dibanding dengan biaya yang telah dikeluarkan dalam perawatannya.

“Biasanya tidak seperti ini, kurang lebih 5 bulan tidak ada hujan, petani di sini memang terbantu dengan kali Jambe, tapi kami menyedot bukan air kali dialirkan langsung. Tentunya ada biaya bahan bakar karena menggunakan diesel,” tukasnya sore tadi.

Areal persawahan di Desa Satriajaya, Tambun Utara, setidaknya membantu petani lainnya. Mereka bisa mendapatkan penghasilan dengan cara mengarit padi.

Petani lainnya Sumiran, mengaku bahwa dirinya sebagai kuli arit padi dengan sistem bagi hasil. “Kami bagi hasil sistemnya 6 kilo, satu kilo buat kami, tapi hasil padi jelek begini mau dapat apa. Ini karena sudah langganan saja,” ujar Sumiran.

Lihat juga...