Alfaris dan Rival, Menderita Gizi Buruk dan Penyakit Lainnya
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
MAUMERE – Selain mengalami gizi buruk yang menyebabkan kelumpuhan seperti dialami Alfaris Yosin (12) yang biasa disapa Aris, dan Rivaldus Rival (10) yang disapa Rival, keduanya pun menderita berbagai penyakit bawaan, saat diperiksa kesehatannya.
Setelah dirujuk dari Puskesmas Kewapante ke RS TC Hillers Maumere, kedua anak asal desa Namangkewa, kecamatan Kewapante, kabupaten Sikka, NTT ini pun diperiksa kesehatannya secara menyeluruh.
“Kedua anak ini mengalami kelainan bawaan perkembangan dari lahir. Hasil pengukuran tinggi dan berat badan masuk kriteria gizi buruk,” kata dr. Mario B. Nara, SpA dokter spesialis anak di rumah sakit TC Hillers Maumere, kabupaten Sikka, NTT, Senin (4/11/2019).

Keduanya dirawat di rumah sakit kata Mario, karena penyakit ini. Setelah berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang yang dilakukan, ditemui keduanya mengalami infeksi saluran nafas atau paru-paru.
Satu anak kata dia, mengalami demam tifoid juga tipes dan anemia sehingga kondisi demikian harus diperbaiki terlebih dahulu.
“Jadi kami mengatasi terlebih dahulu penyakit-penyakit penyertanya, terus selanjutnya bersama-sama dilakukan perbaikan gizi dengan pemberian formula khusus untuk anak-anak yang mengalami kriteria gizi buruk,” terangnya.
Mario menyebutkan, pihaknya melihat kedua tangan dan kaki kedua anak ini juga sudah agak kaku sehingga perlu mendapatkan fisioterapi untuk memperbaiki kekakuan otot-otot tangan dan kakinya.
Cerebral Palsy yang dialami tuturnya, agak susah untuk diperbaiki karena kelainan pada otak yang mengatur fungsi motorik sejak lahir.
Ini membuat kemampuan berdiri, berjalan dan berbicara kedua anak ini agak terganggu.
“Yang paling utama harus secara rutin melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan sehingga bisa dideteksi adanya kekurangan gizi sejak awal,” sarannya.
Sejak bayi kata Mario, orang tua harus membawa anaknya secara rutin melakukan kunjungan ke Posyandu untuk melalukan pengukuran tinggi badan dan penimbangan berat badan.
Kalau dari awal diketahui kondisi gizinya kurang maka ditangani lebih awal sehingga kondisinya bisa lebih baik, termasuk mengadakan pencegahan-pencegahan melalui imunisasi.
“Kalau sudah mengalami gizi buruk maka daya tahan tubuh atau imun sudah sangat berkurang sehingga berbagai penyakit bisa mudah masuk ke dalam tubuh seseorang,” jelasnya.
Elisabet Ensi, bibi yang mengasuh kedua anak ini mengakui kondisi keduanya memang sejak diambil asuh dari kakak kandungnya sudah seperti itu.
Ditambah lagi kata Elisabet, keluarganya hanya memiliki pendapatan pas-pasan sehingga tidak memiliki uang untuk membeli makanan bergizi untuk diberikan kepada kedua anak ini.
“Suami saya hanya penjual ikan keliling kampung saja dan penghasilan kami hanya cukup untuk makan saja,” sebutnya.