Kemarau Panjang, BPBD Purbalingga Droping Air ke 92 Desa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURBALINGGA – Musim kemarau yang cukup panjang tahun ini, membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga kewalahan. Beruntung banyak bantuan mengalir dari berbagai elemen masyarakat, sehingga droping air bersih bisa terus dilakukan dan sampai saat ini sudah 92 desa yang menerima bantuan air bersih.

“Kemarau tahun ini luar biasa panjangnya, sudah ada 92 desa yang tersebar pada 15 kecamatan di Kabupaten Purbalingga yang mengalami krisis air bersih,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Purbalingga, Muhsoni, Jumat (4/10/2019).

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Purbalingga, Muhsoni, saat di lokasi droping air, Jumat (4/10/2019) – Foto: Hermiana E. Effendi

Untuk penanganan kekeringan pada tahun ini, BPBD Purbalingga mendapatkan bantuan dari berbagai instansi dan komunitas yang ada di Purbalingga.

Seperti dari alumni SMPN 1 Purbalingga, alumni SMAN 1 dan SMAN 2 Purbalingga, serta dari beberapa komunitas lainnya.

Sampai hari ini, CSR dari komunitas dan instansi tersebut cukup banyak, total ada 1.054 tangki termasuk di dalamnya ada OPD yang ada di Purbalingga.

OPD yang telah berkontribusi melakukan distribusi air bersih diantaranya Setda Kabupaten Purbalingga, BKPPD Purbalingga, Dinporapar Purbalingga, Dinpermasdes Purbalingga, Dinpertan Purbalingga dan Dinkes Purbalingga.

Selain itu, beberapa pihak kecamatan juga turut melakukan distribusi air bersih seperti Kecamatan Karanganyar, Kecamatan Kemangkon dan Kecamatan Bobotsari dengan total CSR dari 45 komunitas/badan usaha/instansi pemerintah dan yang lainnya.

“Dukungan dari berbagai pihak sangat luar biasa, sehingga droping air bersih masih bisa terus dilakukan. Jika hanya mengandalkan dari BPBD, tentu kita mempunyai keterbatasan anggaran,” terangnya.

Lebih lanjut Muhsoni menjelaskan, penanganan bencana kekeringan ini, bukan hanya menjadi tanggung jawab BPBD Purbalingga, melainkan menjadi tanggung jawab bersama. Sehingga penanganan kekeringan, bisa dilakukan seperti halnya penanganan bencana yang lain.

Mengingat, selama ini Kabupaten Purbalingga selalu berada di urutan tertinggi untuk pendistribusian air bersih. Sehingga dibutuhkan penanganan yang permanen untuk menangani kekeringan bersama dengan OPD terkait.

Muhsoni mencontohkan, kemungkinan untuk pembuatan embung, sumur bor ataupun pamsimas perlu digalakkan kembali. Jika hal tersebut dilakukan, maka secara bertahap kekeringan di Purbalingga akan teratasi.

“Kemarin kita sudah membahas dengan OPD terkait untuk penanganan kekeringan jangka panjang, seperti kemungkinan pembuatan embung atau sumur bor. Sebab, belajar dari musim kemarau panjang sekarang ini, maka antisipasi harus dilakukan untuk kemarau berikutnya,” tuturnya.

Lihat juga...