Didin Hafidhuddin: Kesaktian Pancasila Bukan Sekadar Ucapan

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Didin Hafidhuddin mengatakan, kesetiaan Pancasila itu sesungguhnya adalah upaya kita selaku bangsa untuk melaksanakan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan.

“Itu yang paling penting, bukan sekadar diucapkan, saya ‘Pancasilais’ dan sebagainya. Ketuhanan Yang Maha Esa, ya kembali kepada agama masing-masing, taat kepada Allah SWT dan taat pada ajaran agamanya,” kata Didin, saat dihubungi, Selasa (1/10/2019) sore.

Kemudian, kemanusiaan yang adil dan beradab. Menurutnya, harus dibuktikan dengan saling menyayangi sesama anak bangsa ini berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan. Misalnya, sebut dia, petugas keamanan harus menyayangi rakyat. Dan sebaliknya, rakyat harus menghormati petugas keamanan.

“Karena kita ini semua anak bangsa lahir dari rahim yang sama,” ujarnya.

Demikian pula yang berkaitan dengan persatuan dan kesatuan, harus kita jaga bersama. “Jadi, kalau saya maknai, bahwa kesaktian Pancasila itu sesuatu yang mendorong kita supaya menjalankan sila-sila itu dalam kehidupan keseharian kita,” tegas Didin Hafidhuddin, yang merupakan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB).

Dalam pengalaman nilai-nilai itu, tambah dia, bagaimana pemimpin yang bersih dan jujur itu sangat kita butuhkan. Dan, tentu bukan sekadar ucapan, tetapi dalam tindakan nyata.

Apalagi, sekarang ini bangsa Indonesia sedang mengalami berbagai musibah yang berkaitan dengan asap, konflik Wamena di Papua dan lainnya. Tentu, kalau ini dibiarkan akan membahayakan.

Dia menegaskan, kesaktian Pancasila itu harus dijadikan sebagai upaya bersama untuk menjalankan nilai Pancasila dalam kehidupan nyata. Jangan sekadar dipidatokan atau diakui saja oleh pernyataan-pernyataan. Karena sekarang ini, rakyat makin cerdas melihat apa yang mereka rasakan.

“Sehingga kita sudah tidak lagi mengungkap dengan lisan atau semboyan-semboyan. Tapi, harus mendukung sepenuhnya melaksanakan nilai luhur warisan dari pendiri bangsa ini,” katanya.

Sehingga, Pancasila sebagai dasar berbangsa dan bernegara menjadi makin kokoh. Dan, lebih dari itu harus diamalkan serta diwujudkan dalam keseharian oleh para pemimpin bangsa.

“Jadi rakyat itu bukan sekadar melihat secara teoritis dan filosofis. Tetapi melihat realitas dalam kehidupan. Bahwa, memang pemimpin kita ini adalah pemimpin yang Pancasilais dalam tindakan, ucapan, kesederhanaan dan pengayoman,” pungkasnya.

Lihat juga...