Tekan Stunting, PDAM Balikpapan Usul Perbaikan Sanitasi
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
BALIKPAPAN — Pengelolaan air limbah yang belum ideal menjadi salah satu penyebab buruknya sanitasi di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Akibatnya, kota berpenduduk 700 ribu jiwa ini masih rawan terhadap stunting. Bahkan hingga Juni 2019 saja, sudah ada 1.883 anak yang dinyatakan sebagai penderita.
Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Manggar, Haidir Effendi merujuk penelitian yang menyebut, stunting bisa disebabkan oleh kualitas air dan sanitasi yang buruk.
“Kita semua harus berbenah dengan meningkatkan kualitas air bersih, serta perbaikan sistem sanitasi masyarakat,” kata Haidir Effendi di Balikpapan, Senin (9/9/2019).
Sistem sanitasi berpengaruh terhadap stunting karena adanya sumber air minum dan sumur tampungan limbah yang berjarak di bawah 10 meter.
“Akibatnya bakteri E. Colli penyebab diare dapat bermigrasi dengan cepat,” kata dia.
Untuk mengatasi stunting, pemerintah wajib memperhatikan infrastruktur dasar seperti penyediaan air minum dan sanitasi.
Dalam persoalan pengelolaan limbah, Balikpapan cukup tertinggal. Merujuk data PDAM Balikpapan, dari 100 ribu pelanggan, baru 2 ribu yang menjadi pelanggan air limbah. Untuk itu, ia berharap pelanggan air bersih juga menjadi pelanggan air limbah.
“Idealnya memang pelanggan air limbah sama dengan pelanggan air bersih. Karena bagaimana pun juga air buangan yang bekas dipakai untuk kegiatan MCK menjadi air limbah,” urai Haidir, Senin (9/9/2019).
Dalam menangani pelanggan, PDAM Balikpapan menerapkan sistem jaringan secara on site dan off site. Sistem on site maksudnya PDAM melayani pembuangan di tempat. Sedangkan offsite sistem adalah upaya PDAM dalam melayani sistem pembuangan terpusat.
“Ada dua yang mengelola on site off site. Jaringan pipa ke rumah-rumah di Balikpapan barat yang saat ini jumlah pelanggannya 2 ribu,” kata dia.
Pelanggan di wilayah itu dapat dilayani dengan dua sistem karena berada di atas permukaan air. Sehingga instalasi jalur pipa bisa dilakukan dengan lebih fleksibel. Baik dari sisi biaya maupun infrastruktur.
Haidi Effendi bilang, untuk melakukan investasi dan teknologi pengolahan limbah masih besar. Rata-rata kebutuhannya mencapai Rp400 miliar.
Akibat belum berkembangnya pengelolaan air limbah, upaya Balikpapan untuk mempercepat 100-0-100 suistainable development goals (SDG’s), masih mengalami kendala.