Pengembangan Sekolah Ramah Anak di Kaltim Capai 333
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
BALIKPAPAN – Capaian pengembangan Sekolah Ramah Anak (SRA) di Kalimantan Timur (Kaltim) hingga pertengahan tahun 2019 mencapai 333 sekolah yang tersebar di delapan kabupaten dan kota. Dengan SRA sangat mendukung terhadap tumbuh kembang anak, baik satuan pendidikan formal, non formal dan informal.
Kepala Dinas Kependudukan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim, Halda Arsyad, menjelaskan, sekolah harus nol kekerasan, memiliki jalur aman ke sekolah dan memiliki kantin yang menyediakan makanan sehat.

Bahkan, tidak hanya ramah pada anak, tapi ramah untuk semua warga sekolah termasuk guru dan kepala sekolah.
“SRA merupakan satuan pendidikan formal, non formal dan informal yang aman, bersih, sehat, peduli dan berbudaya lingkungan hidup,” katanya, Kamis (26/9/2019).
Pihaknya menyebutkan, ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan yaitu masih ada dua kabupaten yang belum melakukan inisiasi SRA. Melalui APBD perubahan ini, DKP3A akan melakukan advokasi di dua kabupaten tersebut (Mahakam Ulu dan Kutai Barat).
“Pada APBD perubahan ini, DKP3A akan melakukan advokasi di dua kabupaten,” ungkapnya.
Dengan upaya yang dilakukan diharapkan meningkatkan pemahaman sehingga memiliki komitmen untuk melaksanakan amanah perlindungan hak anak dan mengaplikasikan kebijakan SRA.
Selain itu, setiap orang dilarang memperlakukan anak secara diskriminatif, termasuk labelisasi dan penyetaraan dalam pendidikan bagi anak-anak yang menyandang cacat.
“Oleh karena itu, pentingnya pelatihan Konvensi Hak Anak yang mengatur tentang hak anak bagi semua pihak,” imbuhnya.
Sementara itu, di Balikpapan untuk menambah jumlah sekolah ramah anak, dinas terkait bersinergi baik dalam peningkatan sumber daya manusia maupun infrastrukturnya.
“Pada tahun ini kita prioritas sekolah yang memiliki kategori spesial. Misalnya sekolah itu sudah memiliki adiwiyata. Sekolah berbasis lingkungan maka juga ramah anak,” ucap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Balikpapan, Muhaimin.
Ia mengatakan, agar sekolah ramah anak dapat terealisasi diperlukan partisipasi semua pihak. “Kalau ingin menjadi sekolah ramah anak diperlukan partisipasi semua pihak. Dari orang tua hingga instansi terkait, kalau dari sarana prasarana jelas dari Dinas Pendidikan,” pungkasnya.
Dia pun menargetkan sekolah yang sudah meraih prestasi penghargaan berbasis lingkungan juga dapat menjadi sekolah ramah anak.