Sejumlah Sekolah TK di DIY Mulai Terapkan PTM 100 Persen

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Mayoritas sekolah formal di wilayah DIY mulai menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen sejak beberapa hari terakhir. Hal ini dilakukan seiring mulai rampungnya program vaksinasi anak di berbagai daerah di provinsi tersebut. 

Selain di tingkat SD/MI, SMP/MTs maupun SMA/SMK/MA, pelaksanaan PTM 100 persen ini juga mulai diterapkan di sekolah setingkat TK. Meskipun mayoritas siswa TK belum mendapatkan vaksinasi, mengingat program ini hanya berlaku bagi anak usia 6-11 tahun.

Seperti terlihat di TK atau Roudhotul Athfal Ar-Raihan, Trirenggo, yang berada di bawah naungan Kemenag Bantul. Dari sekitar 250 siswa yang ada di sekolah ini, tercatat baru 90 siswa telah divaksin. Sementara sebanyak 160 siswa lainnya masih belum divaksin, karena masih berumur di bawah 6 tahun.

Kepala Sekolah TK RA Ar-Raihan, Trirenggo, Bantul, Yogyakarta, Nur Hidayah, Kamis (20/1/2022). –Foto: Jatmika H Kusmargana

“Meski mayoritas siswa belum divaksin, namun kita tetap melakukan PTM 100 persen, mengingat sudah mendapatkan izin. Baik itu dari pemerintah maupun orang-tua/wali murid. Meskipun dalam pelaksanaannya tetap kita lakukan dengan pengawasan serta penerapan prokes secara ketat,” ujar Kepala Sekolah TK RA Ar-Raihan, Nur Hidayah, Kamis (20/1/2022).

Nur Hidayah mengatakan, masuk selama 5 hari dalam seminggu mulai Senin hingga Jumat, para siswa di sekolah ini wajib mengenakan masker serta mencuci tangan saat mengikuti proses pembelajaran. Dalam pelaksanaannya, proses pembelajaran juga dilakukan dengan membagi ruang kelas dalam dua kelompok siswa.

“Karena keterbatasan ruang kelas, kita membagi pembelajaran menjadi dua kelompok. Setiap kelas diisi sekitar 28-30 siswa. Namun mereka belajar dalam dua kelompok berbeda, yang masing-masing berisi 14-15 orang. Ini dilakukan untuk mengantisipasi kerumunan siswa,” katanya.

Untuk membatasi interaksi antarsiswa, pihak sekolah sampai saat ini juga masih meniadakan jam istirahat. Proses pembelajaran yang sebelumnya berlangsung selama kurang lebih 4 jam juga dibatasi menjadi hanya sekitar 3 jam saja.

“Jam masuk dan pulang sekolah juga kita atur sedemikian rupa, sebagai upaya mencegah terjadinya kerumunan. Baik itu antarsiswa maupun orang tua/wali murid yang sedang menjemput,” katanya.

Persoalan lain yang juga terjadi dalam PTM di sekolah setingkat TK adalah ketaatan para siswa dalam menjalankan prokes. Mengingat siswa TK yang berusia di bawah 6 tahun umumnya masih sulit diatur, sebagaimana siswa lain di sekolah setingkat SD, SMP atau SMA/SMK.

“Untuk siswa TK memang kesulitannya di situ. Seperti misalnya dalam menggunakan masker. Sebab, terkadang ada siswa yang bosan dan tidak mau pakai masker, karena merasa gerah. Sehingga kita juga tetap memberikan kesempatan bagi mereka untuk melepaskan masker dengan izin dari guru,” bebernya.

Sedangkan terkait materi pembelajaran, pihak sekolah sendiri mengaku tidak memasang target kurikulum dalam PTM di masa pandemi ini. Selain hampir selama 2 tahun siswa sudah tidak bersekolah, proses pembelajaran saat ini juga lebih difokuskan untuk melatih dan membiasakan siswa menjalani kehidupan baru di masa pandemi dengan penerapan prokes.

Lihat juga...