Akademisi Harus Terlibat dalam Pencapaian SDGs
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JEMBER – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Bambang Brodjonegoro, mengajak semua pihak untuk aktif terlibat dalam pencapaian target Sustainability Development Goals (SDGs) atau pembangunan yang berkelanjutan.
Pasalnya pemerintah tidak akan mungkin bekerja sendiri dalam memenuhi 17 target SDGs yang telah ditetapkan oleh PBB. Keterlibatan banyak pihak seperti swasta, akademisi, LSM, media massa bahkan anak-anak muda ini sesuai dengan fungsi, peran dan kemampuan masing-masing.
Misalnya saja perguruan tinggi mengkaji bagaimana seharusnya mencapai target SDGs, media massa memberikan pemahaman kepada khalayak akan tujuan SDGs, sektor swasta dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) dan lainnya. Artinya ada banyak cara terlibat dalam pencapaian SDGs.
“Tujuan SDGs mewujudkan dunia tanpa kemiskinan, layanan kesehatan bagi semua orang, tak ada lagi kelaparan, lingkungan yang lestari dan tujuan lainnya. Kesemuanya mustahil dikerjakan sendiri oleh pemerintah. Padahal seringkali kata development diasosiasikan hanya sebagai tugas pemerintah. Untuk itu saya mengajak semua pihak untuk aktif terlibat dalam pencapaian SDGs sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing,” kata Bambang Brodjonegoro di Universitas Jember (Unej), Kamis (1/8/2019).
Menteri PPN/Bappenas lantas memberikan contoh bagaimana keterlibatan banyak pihak dalam membantu masyarakat sehingga dapat berkontribusi dalam pencapaian target SDGs.
“Ada contoh sebuah desa di pelosok Provinsi Jambi yang baru merasakan listrik setelah 37 tahun dengan adanya Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro tadi didanai bersama oleh pihak bank dengan CSR-nya, para dermawan memberikan donasi, bahkan zakat yang terkumpul oleh Baznas disalurkan ke desa tadi,” ujar Bambang Brodjonegoro.
“Alhamdulillah dengan adanya listrik anak-anak bisa belajar dengan baik di malam hari, hasil kebun berupa kopi dapat diolah jadi kopi bubuk, yang akhirnya meningkatkan taraf hidup, taraf kesehatan, dan taraf ekonomi warga desa, artinya turut mewujudkan pencapaian target SDGs,” lanjut Bambang Brodjonegoro.
Menteri yang juga guru besar ekonomi pembangunan ini lantas memberikan contoh lain. “Saat ini anak-anak muda pun tak mau ketinggalan, banyak yang memulai social entrepreunership berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Misalnya membuat aplikasi yang menghubungkan antara petani atau nelayan dengan pembeli secara langsung. Artinya mereka memutus rantai panjang penjualan sehingga meningkatkan penghasilan petani dan nelayan serta mewujudkan bisnis yang lebih fair.
Perguruan tinggi seperti Universitas Jember punya potensi sebab memiliki akademisi dan mahasiswa. Jadi jika disimpulkan ada dua pelajaran dari contoh tadi, yakni blended finance dan social entrepreunership, yang dapat menjadi kunci pelibatan banyak pihak dalam mencapai target SDGs,” imbuhnya lagi.
Bambang Brodjonegoro juga mengilustrasikan dalam mencapai target SDGs, maka pemerintah bertindak sebagai dirijen yang memandu berbagai pihak seperti swasta, akademisi, LSM, media dan pihak lainnya agar mampu bekerjasama dalam mewujudkan 17 target SDGs.
“Beruntunglah Provinsi Jawa Timur memiliki SDGs Center yang ada di Universitas Jember, jadi silakan Bappeprov dan Bappeda yang ada di Jawa Timur berkonsultasi dengan SDGs Center di Universitas Jember dalam merencanakan dan mengaplikasikan program-program kegiatannya dalam rangka mencapai target SDGs di tahun 2030 nanti,” katanya.