Petugas Medis Paling Direkomendasikan Vaksinasi Influenza

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Dari semua sektor, yang paling patut waspada terhadap influenza adalah para pekerja medis. Karena mereka tidak hanya dapat terpapar virus influenza, tapi juga mampu memaparkan virus kepada orang lain. Dan yang terburuk, jika yang terkena paparan virus itu adalah pasien kronis di instansi medis tempat petugas medis itu bekerja. 

Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI,  Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, menyebutkan, tenaga medis merupakan salah satu yang direkomendasikan WHO untuk mendapatkan vaksinasi influenza.

“Tenaga medis adalah yang direkomendasikan. Selain wanita hamil, balita, lansia, penderita penyakit kronis, traveller internasional dan orang-orang dengan imun rendah,” kata Samsuridjal, saat edukasi media tentang vaksinasi influenza di Jakarta, Jumat (5/7/2019).

Ia menjelaskan, bahwa para petugas medis memiliki dua faktor yang menyebabkan dirinya menjadi target imunisasi influenza.

“Yang pertama itu, tenaga medis kan juga manusia. Dia bisa terkena penyakit. Artinya, dia berisiko tertular influenza,” urai Samsuridjal.

Data menunjukkan, bahwa risiko penyebaran penyakit influenza di rumah sakit itu lebih tinggi dibandingkan penyebaran di lingkungan komunitas.

“Tercatat, potensi penyebaran di rumah sakit mencapai 11-59 persen. Jauh lebih tinggi dibandingkan lingkungan komunitas yang hanya 23 persen,” ujar Samsuridjal, lebih lanjut.

Lalu, faktor kedua adalah potensi petugas medis sebagai penyebar virus influenza. “Dari hasil penelitian, ditemukan 75 persen dari petugas medis yang ada akan tetap bekerja saat mereka sakit influenza. Tetap bekerja itu merupakan dedikasi mereka terhadap pekerjaannya. Tapi, ini menjadi peluang untuk tersebarnya virus. Karena itu, saya akan menyuruh staf saya untuk pulang jika mengidap influenza,” tegasnya.

Karena, ia menjelaskan, dalam kondisi sakit para petugas medis ini akan menjadi faktor risiko bagi para pasien kronis. “Jika pasien kronis terkena influenza, artinya akan ada komplikasi. Artinya, rawat inap makin mahal dan meningkatkan biaya perawatan,” urai Samsuridjal.

Dicontohkan, jika seorang pasien menderita diabetes dan terkena influenza, maka risiko dirawat akan naik menjadi enam kali lipat dan risiko meninggal akan menjadi tiga kali lipat dibandingkan pasien tanpa diabetes.

“Kondisi ini mendorong kami untuk mengadakan imunisasi influenza di wilayah kerja kami. Artinya, kami membeli sendiri dan melakukan imunisasi sendiri,” ujar Samsuridjal.

Tapi, karena imunisasi ini bukan imunisasi wajib, maka kebijakan ini hanya berupa imbauan.

“Banyak juga yang tidak mau, dengan berbagai alasan. Sehingga kami berharap, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan bisa menjadikan imunisasi influenza ini sebagai imunisasi wajib. Agar kesehatan masyarakat Indonesia bisa terjaga,” pungkasnya.

Lihat juga...