Petani di Reroroja Beralih Tanam Kacang Hijau
Editor: Koko Triarko
MAUMERE – Kekeringan yang berkepanjangan, membuat mata air mulai mengering, demikian pula dengan debit air Kali Magepanda dan Reroroja di Kabupaten Sikka, menurun drastis. Akibatnya, lahan sawah tak bisa ditanami padi, karena air tidak bisa dialirkan ke saluran.
“Banyak petani yang tidak memiliki modal untuk membeli solar, agar bisa menghidupkan mesin pompa. Terpaksa beralih menanam kacang tanah dan kacang hijau, karena tidak membutuhkan banyak air,” sebut Agustinus Delu, petani Desa Reroroja, Senin (15/7/2019).
Dikatakan Agustinus, petani banyak yang beralih menanam semangka, kacang tanah dan kacang hijau. Ada juga yang menanam sayur-sayuran, seperti sawi, kangkung, tomat dan terung, karena bisa mendapatkan uang lebih cepat dan tidak butuh banyak air.

“Hampir ratusan hektare lahan yang ditanami kacang tanah dan kacang hijau serta semangka. Kalau semangka kebanyakan di areal persawahan di Dusun Koro, sementara di Dusun Duli lebih banyak menanam kacang hijau,” terangnya.
Marselus Weu, petani lainnya menambahkan, untuk kacang hijau biasanya ditanam di bekas lahan sawah yang tidak terlalu berair. Saat sudah mulai berumur 15 hari dan 30 hari, baru mulai melakukan penyiangan tanaman kacang hijau.
“Biasanya panen dilakukan setelah kacang hijau berumur 80 hari. Harga jualnya pun lumayan, dimana sekilogram masih di kisaran Rp13 ribu sampai Rp17 ribu. Pembelinya pun lumayan banyak, sehingga tidak sulit menjualnya di pasar,” tuturnya.
Namun, lanjutnya kalau petani memiliki modal hingga Rp1 juta, maka bisa menanam sayuran. Untuk membeli bibit sayuran bisa mengeluarkan biaya Rp200 ribu, sementara pupuk Rp150 ribu, belum termasuk beli solar untuk menyiram tanaman.
“Dengan modal Rp1 juta, kalau tanam kangkung dalam sebulan bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp1,5 hingga Rp2 juta untuk lahan sekitar setengah hektare. Kalau terong dan semangka biasayaa dua bulan sudah bisa panen, dan keuntungannya pun lebih besar,” terangnya.
Namun tidak semua petani sawah di Desa Reroroja mampu membeli bibit tanaman dan pupuk. Goris petani lainnya lebih memilih membiarkan sawahnya mengering selama sebulan, kemudian ditanami jagung.
“Saya lebih memilih menanam jagung, karena bibit mudah diproleh dan beli yang murah di pasar. Satu hektare bisa butuh benih 20 kilogram. Sementara harga jualnya pun lumayan bagus, satu jagung muda laku dijual Rp3.000,” ungkapnya.
Goris mengaku lebih senang menanam jagung, karena perawatannya lebih mudah dan menjualnya pun gampang. Dua bulan sudah bisa panen dan untungnya lebih banyak, dibandingkan menanam sayuran.
“Biasanya setahun bisa tanam hingga tiga kali jagung muda setelah memanen padi. Biasanya saya tanam jagung bulan April atau Mei. Setahun saya bisa untung hingga Rp30 juta untuk lahan jagung seluas satu hektare,” terangnya.
Tetapi, Goris mengaku hampir semua petani padi sawah lebih memilih menanam padi, bila air Kali mencukupi untuk mengairi sawah. Hal itu karena sudah terbiasa menanam padi, sehingga petani merasa kesulitan kalau menanam sayuran atau tanaman lainnya.
“Tetapi kalau musim kemarau dan debit air menurun drastis seperti sekarang, mau tidak mau harus tanam sayuran dan lainnya. Daripada lahan sawah dibiarkan menganggur, lebih baik ditanami agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” pungkasnya.