BMKG: Gempa Bumi pada 1995 di Jepang, Pelajaran Penting
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Urip Setiyono, S.Si. M.DM., Staf Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Kedeputian Bidang Geofisika BMKG, menyatakan, persentase korban selamat gempa bumi di Hanshin Awaji, Jepang pada 1995, menjadi pelajaran penting dalam penanganan tsunami di Indonesia. Berdasarkan data, gempa pada 1995 tersebut persentase korban selamat didominasi oleh penyelamatan mandiri.
Menurut Urip Setiyono, sesuai data korban selamat akibat gempa bumi 34,9 persen, ditolong anggota keluarga 31,9 persen, ditolong tetangga 28,1 persen, ditolong orang lewat 2,6 persen. Persentase korban selamat paling kecil di antaranya sebanyak 1,70 persen, berasal dari bantuan regu penyelamat.
“Dari kasus tersebut, bagi para peserta Sekolah Lapang Geofisika (SLG),BMKG Stasiun Kotabumi, kejadian gempa Jepang bisa menjadi pelajaran,” kata Urip Setiyono, dalam SLG BMKG Stasiun Kotabumi, Senin (15/7/2019).
Pembelajaran penting yang didapat dari kejadian itu, sebut Urip Setiyono, di antaranya penguasaan pengetahuan penyelamatan yang dimiliki diri-sendiri. Selain penyelamatan mandiri tersebut diperlukan bagi keluarga, komunitas dan lingkungan sekitar. Pemahaman terkait gempabumi dan tsunami yang berpotensi terjadi bisa dilakukan sejak dini.

“Sejumlah kejadian bencana gempabumi dan tsunami menjadi pelajaran penting untuk upaya penyelematan, sehingga kini banyak dilakukan simulasi, sosialisasi kesiapsiagaan bencana secara mandiri,” ungkapnya.
Salah satu pemahaman yang harus dimiliki masyarakat, di antaranya terkait intensitas dan magnitudo gempa bumi. Intensitas adalah skala yang dibuat berdasarkan dampak gempa bumi yang dialami oleh segala sesuatu di atas permukaan bumi, dengan ukuran MMI (Modified Mercally Intensity) dari tingkat I hingga XII. Sedangkan, magnitudo atau skala kekuatan gempa bumi yang mencerminkan besarnya energi, salah satunya Schala Richter (SR).
Melalui informasi tersebut, masyarakat bisa memahami kekuatan gempa bumi. Selain it,u perlu dilakukan pemahaman periode merusak saat gempa bumi yang berlangsung sangat cepat, bahkan dalam hitungan detik.
“Sejumlah pengalaman gempabumi di Indonesia, salah satunya di Donggala, sejak gempa terjadi hingga kerusakan terjadi hanya 46 detik,” ungkap Urip Setiyono.
Urip Setiyono juga menyebut, pelajaran, sosialisasi dilakukan terkait langkah untuk penanganan sebelum, saat, sesudah gempa bumi. Berbagai pembelajaran kesiapsiagaan menghadapi gempabumi dan tsunami dilakukan dengan langkah antisipasi.
Pembelajaran tersebut membuat masyarakat bisa melakukan upaya penyelamatan secara mandiri. Persiapan dilakukan dengan langkah dan pengetahuan jalur evakuasi.
Masyarakat sejauh ini melalui pemerintah, mulai menyelaraskan rencana kedaruratan keluarga dengan lingkungan. Pelatihan dan simulasi perlindungan diri serta evakuasi menghadapi gempa bumi dan tsunami, harus dilakukan secara berkelanjutan.
Selain SLG, BMKG juga menggelar ‘BMKG Goes to School’ untuk pendidikan sistem peringatan dini, jalur evakuasi, titik kumpul serta bantuan kedaruratan. BMKG juga membuat produk sistem peringatan dini tsunami.
Januar Arifin, ST., M.Sc., Kepala Sub Bidang Manajemen Operasi Tsunami BMKG, menyebut BMKG membagi empat produk sistem peringatan dini tsunami. Yaitu, Peringatan Dini 1 (PD 1), berupa parameter gempabumi dan peringatan dini tsunami di area terancam.
PD 2 merupakan pemutakhiran parameter gempabumi dan estimasi waktu tiba dan tingkat ancaman. PD 3 meliputi informasi hasil observasi tide gauge, pemutakhiran status ancaman tsunami, dan PD 4 pernyataan peringatan dini tsunami berakhir. Sejumlah produk peringatan dini tersebut dilakukan melalui moda SMS, media televisi dan media lain.
Informasi terkait gempa bumi dan tsunami juga disampaikan melalui media massa. Televisi, surat kabar dan radio, sangat penting mendukung informasi gempa bumi dan tsunami. Sinergi antara BMKG dan sejumlah media dilakukan, agar memberi informasi yang benar terkait gempa bumi dan tsunami. Selain ikut memberi informasi, media juga ikut mendukung proses pemulihan psikologis bagi korban bencana.