Proyek Pembangunan di Banyumas Tahun Ini Molor

Editor: Koko Triarko

Ketua Gabungan Pelaksana Kontruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kabupaten Banyumas, Muhammad Lutfi. -Foto: Hermiana E. Effendi

PURWOKERTO-Pelaksanaan proyek pembangunan infrastruktur di Kabupaten Banyumas, tahun ini dipastikan molor. Mengingat pelaksanaan lelang proyek molor hingga empat bulan akibat perubahan sistem pelelangan online.

Ketua Gabungan Pelaksana Kontruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kabupaten Banyumas, Muhammad Lutfi, mengatakan, selain mundur, pelaksanaan lelang online juga banyak yang harus diulang, karena banyak pelaku usaha yang belum memahami sistem aplikasi yang baru.

“Pelaksanaan proyek tahun ini molornya bertubi-tubi, setelah pelaksanaan lelang yang mundur, aplikasinya juga baru, sehingga pada tahap lelang pertama dari puluhan materi lelang, hanya lima yang lolos dan sisanya harus diulang,” terang Lutfi, Minggu (30/6/2019).

Lebih lanjut Lutfi menjelaskan, tahun lalu pelaksanaan lelang sudah dimulai pada Maret, tetapi tahun ini baru dilaksanakan pada Mei. Hal ini karena banyak perubahan nomenklatur pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), di antaranya nama dinas atau instansi yang mengalami perubahan.

Setelah itu, ditambah sistem baru pada aplikasi online, Kabupaten Banyumas masuk pada 14 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang masuk dalam sistem apilikasi baru.

Sayangnya, saat dilakukan pelatihan untuk sistem baru aplikasi SPSE Seri 4.3 dengan kode CA, bersamaan dengan proses pemilu, jaringan internet sempat diacak. Sampai saat ini, pemerintah juga belum melakukan sosialisasi tentang sistem aplikasi baru tersebut. Sehingga seluruh pelaku usaha, banya belajar secara otodidak.

Pada lelang awal Mei, ada 30 paket proyek dan yang lolos hanya 5 paket. Sisanya 25 paket terpaksa dilakukan lelang ulang tahap dua, ditambah beberapa paket proyek baru, sehingga total ada 167 paket. Dan, dalam lelang tahap dua ini yang lolos juga tidak banyak. Hingga proses lelang tahap tiga, baru 53 persen yang lolos.

“Sekarang sedang masuk lelang tahap empat. Untuk yang lolos lelang tahap pertama, akhir Juni sudah masuk tahap kontrak, dengan nilai rata-rata proyek kisaran Rp500 juta sampai Rp700 juta,” jelas Lutfi.

Proses lelang yang mundur  ini, secara otomatis juga mempengaruhi waktu pengerjaan proyek. Sebab setelah proses lelang, baru dilakukan kontrak kerja dan setelah itu baru mulai dilaksanakan. Rata-rata proyek yang lolos lelang tahap 1, pengerjaannya baru dimulai Juli.

Hal senada juga disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Pelaksana Jasa Kontruksi Nasio­nal (Aspeknas) Kabupaten Banyu­mas, Yondi  Oskari. Menurutnya, dampak penyesuaian aplikasi baru tersebut, ia sempat ikut lelang ulang di tahap dua, karena tidak lolos pada lelang tahap pertama.

“Saya ikut lelang pengerjaan jalan lingkar Ajibarang dengan nilai kontrak Rp4,2 miliar, kemungkinan lolos di tahap dua ini, sedang menunggu pengumuman. Setelah itu pengerjaan dilakukan sekitar pertengahan Juli,” pungkasnya.

Lihat juga...