Sumur Bor Jadi Alternatif Petani Lamsel Aliri Lahan Pertanian

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Sumur bosr menjadi salah satu alternatif petani di Lampung Selatan untuk dapat mengairi areal pertanian. Terutama saat musim kemarau, meski sudah membendung sungai, namun karena debit yang minim menyebabkan tidak dapat memenuhi kebutuhan.

Mujiono, salah satu petani di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Lamsel menyebut petani di wilayah tersebut hanya bisa bertani selama dua kali dalam setahun. Sungai Pergiwo yang debit airnya ikut menyusut membuat pasokan air tidak bisa merata.

“Saat musim kemarau fungsi sumur bor sangat berandil besar bagi penyelamatan lahan karena air sungai menyusut. Selain itu bisa untuk minum juga dapat digunakan menyiram tanaman pakan bagi ternak,” terang Mujiono saat ditemui Cendana News, Senin (29/4/2019).

Berkat keberadaan fasilitas sumur bor bantuan pemerintah yang diusulkan oleh petani tersebut lahan pertanian seluas 25 hektare bisa teraliri. Idealnya dengan keberadaan lahan sawah seluas seratus hektare dibutuhkan empat unit.

Mujiono, salah satu petani pengguna fasilitas sumur bor untuk pengairan lahan sawah. Foto: Henk Widi
Hal yang sama juga disampaikan Nafsiah, warga setempat. Ia mengaku keberadaan sumur bor selain bisa dipakai untuk air bersih kala kemarau juga untuk menyiram tanaman sayuran.

“Warga kerap harus memakai jerigen atau ember. Air sumur bor sangat bersih karena merupakan air tanah,”ujar Nafsiah.

Nafsiah juga berharap kebutuhan sumur bor untuk musim kemarau bisa ditambah di wilayah tersebut.

Joni, salah satu pemilik lahan pertanian kelapa sawit mengaku membutuhkan air untuk pengairan tanaman sawit saat berbunga. Ia memanfaatkan sungai Way Pisang dengan menggunakan mesin pompa atau alkon.

“Berondolan atau malai buah sawit akan berkurang saat musim trek maka dilakukan penyiraman dengan menyedot air sungai,” cetus Joni.

Alternatif pembuatan sumur bor diakuinya pernah dilakukan namun ia menyebut kedalaman 100 meter air tidak diperoleh. Alternatif yang dilakukan dengan mempergunakan mesin alkon dan selang berjarak 300 meter dari sungai. Memanfaatkan mesin sedot untuk pengairan membuat ia bisa menyelamatkan tanaman sawit miliknya. Saat musim trek dimana sejumlah petani memperoleh hasil minim ia masih bisa memanen sekitar 1 ton TBS sawit dengan harga per kilogram Rp1.000.

Lihat juga...