Warga Tambak Lorok: Pak Harto Pahlawan Pembangunan
Editor: Koko Triarko
SEMARANG – Siti Hardijanti Rukmana, mengaku bangga dengan warga Kampung Nelayan Tambak Lorok, Semarang, yang selalu mengingat jasa-jasa mendiang ayahandanya, Presiden Soeharto, selama dalam membangun bangsa ini.
“Alhamdulillah, saya terharu sekali mereka masih ingat Bapak. Masih mengingat apa yang telah Bapak lakukan untuk mereka. Jadi, bukan kacang lupa kulitnya, ya. Mereka tetap menghargai Bapak. Alhamdulillah, Bapak telah melakukan hal yang baik,” kata Tutut Soeharto, sapaannya.
Seperti yang dikatakan Sarofah, salah satu warga Tambak Lorok. Dia mengaku sangat mengagumi sosok Soeharto yang begitu peduli terhadap rakyat kecil, yakni para nelayan di Tambak Lorok ini.
“Pak Harto itu pahlawan pembangunan. Saya dan warga di sini tidak akan lupa jasa Pak Harto untuk bangsa ini,” ujarnya.
Dalam membangun bangsa, Pak Harto memiliki banyak program untuk menyejahterakan rakyat. Kini putra-putrinya berkomitmen untuk meneruskan cita-cita Pak Harto, untuk mewujudkan Indonesia adil, makmur dan sejahtera.
Komitmen itu dikibarkan dalam balutan semangat Partai Berkarya dengan Ketua Umum Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto).
Tutut Soeharto mengatakan, program pembangunan Pak Harto memang banyak. Namun demikian dia mengaku, bahwa pastinya tidak semua program itu bagus.
“Ada yang bagus kita teruskan, yang kurang bagus kita perbaiki dan yang tidak bagus, ya ditinggal. Jadi, tidak harus semua kita kerjakan. Nanti kita akan memilah mana yang baik. Ayuk kita bangun untuk bangsa dan negara ini,” tegas putri sulung Presiden Soeharto, ini.
Terkait penyuluhan dan pelatihan pertanian dan peternakan terpadu yang akan diberikan kepada warga nelayan Tambak Lorok, ia mengatakan, gratis dan tidak dikenakan biaya.
“Penyuluhannya gratis, nanti akan dikasih tahu caranya bagaimana penyamakan kulit ikan untuk kerajinan tangan bernilai tinggi,” ujarnya.
Penyuluhan akan diberikan oleh staf ahli pertanian dari Saung Berkarya. Mereka akan diberikan penyuluhan sampai betul-betul bisa penyamakan kulit ikan yang bagus, yang bisa dibuat untuk tas, sepatu dan lainnya.
Terkait warga kampung nelayan Tambak Lorok yang tidak mau dipindahkan, mengingat daerahnya kumuh, Tutut Soeharto menjawab dengan bijak. Menurutnya, mereka adalah orang-orang baik dan santun, bukan orang yang keras kepala seperti yang banyak disampaikan.
“Alhamdulillah, orangnya baik, dan mereka tidak keras kepala. Seperti yang saya dengar selama ini, mereka tidak mau dipindahkan. Bagaimana kita menyapa mereka dengan hati yang ikhlas. Mereka itu orang baik,” ungkapnya.
Menurutnya, Mereka bertahan hidup di sini semata-mata demi menghidupi keluarganya. Bukan untuk mencari keuntungan yang besar. Kalau ada tempat yang lebih baik, juga mereka bersedia dipindahkan.
“Mereka bertahan demi keluarganya, bukan cari keuntungan besar. Dipindahkan ke tempat yang lebih baik juga mau. Tadi dalam dialog mereka sampaikan,” tukasnya.
Tutut Soeharto menegaskan, kondisi kampung nelayan itu kumuh, sebetulnya tergantung masyarakatnya. Kalau lingkungannya mau dibuat baik dengan pendekatan program untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, ini bisa membuka wawasan dan pola pikir mereka ke depan lebih cemerlang.
“Kalau mau dibikin baik, ya baik. Kita akan berikan penyuluhan supaya kampung nelayan ini menjadi daerah sehat, bagus dan bisa dlihat semua orang. Ini lho kampung nelayan percontohan Indonesia,” tegasnya.