Subiakto: Pak Harto Wajibkan Pabrik Tampung Susu Sapi Lokal

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

JAKARTA — Ketua Yayasan Damandiri, Subiakto Tjakrawerdaya mengatakan, kabupaten Boyolali terkenal dengan produk susunya. Bahkan separuh lebih populasi sapi perah di Jawa Tengah ada di daerah tersebut.

“Peternak yang tadinya hanya miliki ratusan sapi, berkembang jadi ribuan. Susu yang dihasilkan juga berlimpah,” kata Subiakto saat mendampingi Siti Hardijanti Rukmana atau Tutut Soeharto berkunjung ke Desa Samiran, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (28/2/2019).

Disebutkan, hal ini tidak terlepas dari campur tangan Presiden kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto. Bahkan di masa itu, jelas dia, Pak Harto mengeluarkan peraturan pemerintah bahwa setiap pabrik susu yang impor diwajibkan menampung hasil dari dalam negeri.

Kebijakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Indonesia. Program ini pun sukses dikembangkan. Jadi ,jelas dia, kalau pabrik mengimpor susu sebanyak tiga liter misalnya, maka wajib satu liter menampung susu lokal.

Saat itu produksi susu dalam negeri sangat berlimpah dan Indonesia sukses swasembada susu.

“Ini revolusi putih di Boyolali dengan swasembada susu, sebagai warisan Pak Harto,” kata Subiakto.

Pak Harto
Subiakto Tjakrawerdaya saat mendampingi Tutut Soeharto ke Desa Samiran, Boyolali, Jawa Tengah. [Ist]
Swasembada susu yang dicanangkan Pak Harto itu memang terkait masalah pangan yang harus dipenuhi. “Ini sangat luar biasa. Visi Pak Harto swasembada susu itu fakta sejarah. Tidak bisa dicoret karena beliau sangat peduli rakyat kecil,” tukas Subiakto.

Namun menurutnya, setelah Pak Harto berhenti, program kebijakan mewajibkan membeli susu para importir itu terhenti. Semuanya hampir impor, tidak ada lagi kewajiban sebagian menampung susu lokal.

Sehingga menurutnya, bisa dibayangkan, kalau semua impor bagaimana dengan nasib para peternak sapi di tanah air.

“Pak Harto memang sudah sare (wafat), tapi program yang baik masih bisa dikerjakan untuk menghadapi tantangan bangsa ke depan. Swasembada susu ini untuk tingkatkan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.

Dia juga berharap di Desa Samiran ini tidak ada lagi masyarakat miskin. Yayasan Damandiri yang didirikan HM Soeharto tersebut berkomitmen dengan ragam programnya untuk membantu rakyat mengentaskan kemiskinan.

Apalagi pada 1987 telah terbukti sukses swasembada pangan dengan mendapatkan penghargaan dari organisasi pangan dunia FAO (Food and Agriculture Organization).

Subiakto menegaskan, dirinya bersama Tutut Soeharto diberi amanah melanjutkan visi HM Soeharto melalui Yayasan Damandiri untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

“Ayo kita jadikan desa Samiran ini, desa yang cerdas ekonomi dan teknologi seperti yang dicanangkan Pak Harto. Sekarang sudah sampai era industri 0.4, tapi desanya masih tertinggal,” tukasnya.

Subiakto optimis desa Samiran akan menjadi desa cerdas ekonomi dan teknologi jika semuanya bersinergi. Apalagi desa ini sudah dijuluki Desa Mandiri Lestari dalam pengembangan potensi ekonominya.

“Wujudkan Samiran jadi desa berbasis ekonomi dan energi, insha Allah Boyolali akan menjadi penopang swasembada susu nasional,” ujarnya.

Pertumbuhan ekonomi akan terus dikembangkan dan dipertahankan. Sehingga bisa memacu semua warga untuk bergerak bersama mewujudkan kemandirian dan sejahtera.

“Desa itu masyarakatnya semua kerja keras dan kerja cerdas melalui gotong royong. Koperasi juga menjadi kekuatan rakyat di sini dalam meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Peternak Sapi Kecamatan Selo, Priyono mengatakan, Pak Harto telah memberikan bantuan ratusan sapi. Sekarang sapi-sapi tersebut telah berkembang menjadi ribuan sapi perah.

“Awal dibentuk koperasi tercatat ada 600 sapi yang diternakkan, sekarang sudah ada ribuan. Ada 12 ribu sapi,” ujarnya.

Lihat juga...