Puting Beliung Rusak Lahan Pertanian di Sikka

Editor: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Angin puting beliung dan banjir yang terjadi di kabupaten Sikka merusak lahan pertanian di beberapa wilayah kabupaten Sikka sejak bulan Desember 2018 hingga bulan Maret 2019. Lahan pertanian warga tersebut mengalami kerusakan ringan hingga berat.

“Memang sejak awal Maret kemarin, angin terkadang kencang sehingga membuat lahan jagung milik warga banyak yang tumbang. Namun kondisi tanaman jagung masih bisa diselamatkan karena sudah hampir panen,” sebut Kasianus Kahe, warga kelurahan Hewuli, kecamatan Alok Barat, kabupaten Sikka, Senin (11/3/2019).

Dikatakan Kasianus, rata-rata petani mulai menanam jagung sejak akhir bulan November 2018, atau awal Desember. Ini menyebabkan tanaman jagung saat bulan Maret sudah tua, dan mulai mengering, siap dipanen.

“Kerusakan akibat angin kencang pun tidak seberapa, karena pohon jagung rebah saja. Dalam satu hamparan lahan jagung, kalau terjadi angin kencang, tanaman jagung di bagian pinggir saja yang tumbang,” sebutnya.

Kerusakan parah terjadi di daerah pegunungan, baik di wilayah timur maupun wilayah barat, kabupaten Sikka. Saat angin kencang, banyak pohon kemiri yang rubuh, dan dahannya patah menimpa tanaman jagung serta padi di sekitarnya.

“Di daerah Lio, banyak pohon kemiri dan pohon pisang yang tumbang. Akibatnya, tanaman jagung dan padi yang berada di bawahnya pun mengalami kerusakan. Kalau di sini juga ada beberapa pohon pisang yang tumbang, terlebih yang berada di dekat jalan raya,” ungkapnya.

Kepala BPBD kabupaten Sikka, Muhammad Daeng Bakir, yang ditemui Cendana News membenarkan, adanya lahan pertanian yang rusak akibat bencana angin kencang, banjir, serta longsor. Bencana terjadi sejak bulan Desember 2018 hingga 10 Maret 2019 kemarin.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Sikka Muhammad Daeng Bakir. Foto: Ebed de Rosary

“Memang ada beberapa wilayah yang tanaman pertanian dan perkebunannya rusak akibat banjir, longsor dan angin kencang. Semua data sudah direkap dan pemerintah juga memberikan bantuan,” terangnya.

Di desa Ipir kecamatan Bola, terdapat 7 Kepala Keluarga (KK) yang lahan pertanian dan rumahnya rusak berat akibat angin kencang dan hujan deras.

Di desa Hoder kecamatan Waigete, banjir bandang merusak 27 rumah warga dan lahan pertanian yang ada.

“Di desa Bangkoor kecamatan Talibura, banjir juga merendam areal persawahan di daerah ini. Namun areal sawah yang terkena banjir hanya mengalami kerusakan ringan hingga sedang saja,” ungkapnya.

Kadis Pertanian, Emy Laka, mengatakan, pihaknya memang memberikan bantuan kepada korban bencana berupa bahan makanan seperti beras, mie instan, susu, ikan dan daging kaleng, serta perlengkapan rumah tangga lainnya.

“Setelah mendapat laporan dan data dari BPBD, maka petugas kami pun segera turun ke lokasi dan mengecek bantuan apa yang bisa diberikan kepada warga yang terkena bencana,” jelasnya.

Lihat juga...