Petani Lamsel Percepat Pemanenan, Meskipun Hujan Hambat Pengeringan

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Hujan yang turun di wilayah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) dengan intensitas sedang hingga deras berimbas pada petani padi dan jagung.

Sebagian petani melakukan percepatan proses pemanenan akibat sebagian tanaman padi dan jagung roboh diterjang angin disertai hujan.

Parimin (40) petani jagung di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan menyebut, hujan disertai angin berimbas tanaman jagung roboh. Beruntung robohnya tanaman terjadi dua hari jelang panen.

Robohnya tanaman jagung diakui Parimin akan menyulitkan proses pemanenan yang diawali dengan pembabatan. Usai dilakukan pembabatan tanaman jagung, proses memetik jagung dilakukan oleh sejumlah pekerja.

Saat hujan mulai turun ia mengaku, mempercepat pemanenan sesuai usia jagung yang bisa dipanen usia 120 hari. Ia memanen jagung miliknya saat berusia sekitar 95 hari dalam kondisi jagung sudah menguning dan kering.

Tanaman jagung yang sudah dirobohkan diakuinya rentan rusak akibat terkena air hujan. Saat masih berada di batang dengan kondisi hujan masih kerap melanda, Parimin kerap menemui biji jagung berjamur dan berkecambah.

Kondisi tersebut akan semakin diperparah saat batang tanaman terendam genangan air. Menghindari risiko biji jagung berkecambah ia memilih membayar buruh petik jagung lebih mahal dibandingkan kondisi normal.

Upah pemetik jagung sebelumnya Rp7.000 membuat ia berani mengupah pemetik sebesar Rp10.000 per karung.

Parimin, pemilik kebun jagung di Desa Banjarmasin Kecamatan Penengahan melakukan pemanenan jagung menghindari jagung miliknya rusak akibat hujan – Foto: Henk Widi

“Panen pada bulan Maret petani berhadapan dengan kondisi hujan disertai angin. Imbasnya banyak tanaman pertanian roboh terutama jagung dan padi, pascapanen berimbas sulitnya proses penjemuran,” terang Parimin, salah satu petani jagung di Penengahan saat ditemui Cendana News, Sabtu (23/3/2019).

Penanganan pascapanen jagung disebut Parimin dilakukan dengan proses penjemuran untuk mengurangi kerusakan pada biji jagung. Pasalnya harga jagung di gudang penampungan akan sangat bergantung pada kadar air.

Kadar air jagung yang diterima oleh gudang minimal 18 persen dengan harga per kilogram mencapai Rp4.500. Padahal saat pascapanen kadar air jagung kerap masih mencapai lebih dari 20 persen. Saat hujan masih kerap turun, proses pengeringan dilakukan dengan menganginkan di teras rumah bahkan di dalam rumah.

Kendala belum adanya mesin pemanas untuk pengeringan jagung membuat Parimin masih menggunakan cara manual. Sebagai cara untuk mengurangi waktu untuk penjemuran, Parimin menyebut menjual jagung dengan sistem karungan.

Per karung jagung pada bulan Maret dijual dengan harga Rp80.000 lebih rendah dari bulan sebelumnya mencapai harga Rp95.000. Penurunan harga tersebut diakibatkan kadar air yang tinggi sekaligus proses pengeringan akan dilakukan mempergunakan mesin pengering di pabrik.

“Dijual dengan sistem pipilan setelah melalui proses perontokan dengan mesin, membuat kami harus mengeluarkan biaya ekstra,” beber Parimin.

Parimin yang memanen jagung pada lahan seluas satu hektare mengaku, bisa memperoleh sekitar 500 karung jagung. Jagung yang sudah dipanen kerap langsung dibeli oleh pengepul jagung dan dibawa ke gudang untuk dirontokkan sebagai bahan baku pembuatan pakan unggas.

Saat kondisi cuaca mendukung untuk proses penjemuran, Parimin mengaku memilih menjual jagung dengan sistem pipilan. Demi efisiensi waktu sekaligus menghemat biaya operasional ia memilih menjual jagung sistem karungan.

Imbas hujan disertai angin kencang juga dirasakan oleh petani padi di Kecamatan Penengahan. Sudami (50) salah satu petani penanam padi di Desa Pasuruan menyebut hujan berimbas tanaman padi varietas batang tinggi berupa IR64, Ciherang, Muncul Cilamaya roboh.

Sebagian petani termasuk dirinya memilih memanen lebih awal normalnya usia 120 hari sudah dipanen pada usia 100 hari. Langkah tersebut dilakukan menghindari padi berkecambah dan sekaligus rusak oleh hama tikus.

“Risiko kerusakan setelah roboh akibat hujan serta angin semakin tinggi sehingga petani harus mempercepat pemanenan,” beber Sudami.

Sudami menyebut, mengandalkan proses pengeringan untuk bisa membuat gabah yang kering panen (GKP) bisa disimpan. Sementara proses penjemuran tidak bisa dilakukan ia menyebut, gabah yang sudah dipanen disimpan pada karung. Selanjutnya bisa dijemur ulang saat kondisi panas.

Proses pengeringan padi saat panas terik disebut Sudami dilakukan maksimal selama tiga hari hingga memperoleh gabah kering giling (GKG). Proses pengeringan yang tidak sempurna diakuinya berimbas gabah bisa mudah pecah saat menjadi beras.

Lihat juga...