Jembatan Dagemage Tak Bisa Dilintasi Kendaraan Akibat Banjir
Editor: Koko Triarko
MAUMERE – Hujan lebat di daerah pegunungan sejak Selasa (12/3) sekitar pukul 17.00 WITA hingga malam, telah menyebabkan banjir di Sungai Dagemage. Empat buah gelagar yang dipergunakan sebagai jembatan darurat pun terseret arus dan jembatan darurat pun ambruk.
“Sejak kemarin jam lima sore hingga malam terjadi banjir. Kendaraan tidak bisa melintas sejak tadi malam hingga tadi pagi jam sembilan baru bisa dilewati kendaraan,” kata Petrus Keli, warga Desa Kolisia, Rabu (13/3/2019).

Menurut Petrus, saat eksavator tiba di lokasi jembatan jam 9 pagi, baru mulai mengeruk material banjir. Kendaraan pun baru bisa melintas melewati sungai yang berada persis di sebelah utara jembatan darurat yang ambruk.
“Setelah alat berat datang dan mengeruk batu-batu besar dan membuangnya ke pinggir sungai, serta menimbun tanah dan batu, baru kendaraan bisa melintas melewati sungai. Tapi angkutan kota tidak bisa melintas, menunggu alat berat melakukan perbaikan,” ungkapnya.
Akibat putusnya jembatan dan arus sungai yang masih deras, kata Petrus, banyak mobil berukuran kecil tidak bisa melintas. Penumpang harus turun dan berjalan kaki melewati sungai, baru naik mobil lainnya di seberang jalan.
“Kalau harus menunggu, tentu lama. Sehingga, banyak penumpang yang memilih berjalan kaki melewati sungai. Air sungai hanya sedalam lutut saja, dan sudah mulai turun ketinggiannya,” tuturnya.
Vinsen Rasi, warga Magepanda menambahkan, akibat banjir anak-anak muda memanfaatkan kesempatan ini untuk menyeberangkan sepeda motor. Saat ketinggian air mencapai setengah meter, sepeda motor tidak bisa melintas dan terpaksa diangkat.
“Untuk menyeberangkan sepeda motor, anak-anak muda tersebut meminta uang Rp50 ribu sampai Rp100 ribu. Motor pun dipanggul oleh dua hingga empat orang, dan berjalan melewati sungai untuk sampai ke seberang jalan,” ungkapnya.
Masyarakat pengguna jalan juga terpaksa membayar biaya sesuai permintaan anak-anak muda, daripada harus menunggu banjir yang tidak kunjung reda. Anak-anak dan orang tua pun harus dipanggul melewati sungai.
“Pemerintah selalu omong, bahwa jembatan ini akan dibangun. Tapi, sudah bertahun-tahun tidak ada tindak lanjutnya. Apalagi, saat ini jembatan Dagesima yang berada persis di timur jembatan Dagemage pun hampir putus,” tuturnya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) kabupaten Sikka, Tommy Lameng, mengaku telah menginstruksikan alat berat eksavator dan loader untuk segera ke lokasi ambruknya jembatan.
“Saya sudah perintahkan alat berat untuk ke lokasi jembatan Dagemage untuk lakukan perbaikan. Kalau eksavator sejak pagi sudah mulai lakukan pengerukan material, sementara loader tiba di lokasi sekitar pukul 11.00 WITA,” terangnya.
Terkait perbaikan jembatan, ia mengatakan, dana sudah ada, dan nanti dikerjakan. Jembatan dan jalan strategis nasional ini menjadi kewenangan provinsi, sehingga nanti proyeknya akan berada di bawah pengawasan Dinas Pekerjaan Umum provinsi NTT.
Disaksikan Cendana News, eksavator dan loader terlihat mengeruk bebatuan dan pasir serta membuat jalur air untuk mengalir. Empat buah gelagar jembatan darurat pun terjatuh ke sungai akibat terbawa banjir.
Anak-anak muda terlihat bergerombol di kedua sisi jalan di jembatan yang ambruk, sambil menawarkan jasa menyeberangkan sepeda motor. Harga dipatok Rp5 ribu untuk sepeda motor yang dibawa mereka menyeberang melewati sungai dengan dikendarai.
Beberapa sepeda motor yang pengemudinya nekat menerobos banjir, terlihat terjatuh akibat menabrak bebatuan. Sebuah mobil truk pun tertahan di tengah sungai, sehingga terpaksa didorong oleh loader keluar dari sungai.