IRT di Lamsel Keluhkan Perbedaan Harga Elpiji Subsidi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Meski pasokan gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram terlihat lancar, namun sejumlah ibu rumah tangga di wilayah Kecamatan Ketapang, Penengahan, Palas kabupaten Lampung Selatan mengeluhkan perbedaan harga yang dijual pengecer.

Sarifah, salah satu pedagang kuliner tradisonal di Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang menyebut harga tabung gas elpiji ukuran 3 Kg cukup beragam. Harga yang ditawarkan pedagang berkisar Rp25.000 hingga Rp27.000 per tabung di wilayah tersebut.

“Meski harga berbeda, ia diharapkan selisih tidak terlalu tinggi. Bagi para konsumen tabung isi ulang gas elpiji berapapun harganya akan dibeli yang penting jangan sampai kosong,” beber Sarifah saat ditemui Cendana News, Kamis (7/3/2019).

Sunarti, Ibu rumah tangga di Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, mengaku di sejumlah pengecer  menjual antara Rp25.000 hingga Rp27.000. Ia menyebut harga tersebut mesih normal. Yang menjadi kendala, dalam kurun sepekan ia kesulitan mencari elpiji subsidi. Kalaupun ada harga di sejumlah pengecer bisa berbeda dengan selisih Rp3.000 hingga Rp5.000.

“Pemilik warung pengecer gas elpiji bersubsidi sedang merayakan Nyepi sehingga sementara tutup, tetapi informasi warga stok masih ada,”beber Sunarti.

Mama Yesi, salah satu pedagang pengecer gas melon di Bakauheni menyebut kuota untuk pengecer dibatasi. Setiap pangkalan gas diberi pasokan sekitar 560 tabung dan pengecer mendapatkan jatah sekitar 10 tabung untuk dijual kembali.

Elpiji Subsidi
Sunarti, salah satu ibu rumah tangga harus kembali setelah tidak mendapat gas elpiji dari warung. Foto: Henk Widi

Dibeli dengan harga sekitar Rp23.000 per tabung, dijual dengan harga Rp27.000 hingga Rp28.000. Sebagian wilayah di antaranya Totoharjo yang ada di wilayah terpencil bahkan menjual hingga Rp30.000 per tabung.

“Harga yang berbeda disebabkan pengecer mengambil sendiri ke pangkalan, jika tidak cepat kerap kehabisan stok,” beber Mama Yesi.

Sugianto, pemilik pangkalan di Desa Pematang Pematang Pasir menyebut, pada musim tanam dan panen tingkat kebutuhan meningkat dibanding kondisi normal. Sebagai antisipasi ia selalu meminta pasokan saat tabung terisi akan habis.

“Puluhan pengecer akan mengirim tabung gas kosong saat agen mengirim ke pangkalan sehingga tidak terjadi kelangkaan,”papar Sugianto.

Sugianto mewanti wanti pengecer untuk tidak menjual gas elpiji ukuran 3 kilogram ke konsumen mampu. Sebab hanya diperuntukkan bagi warga miskin. Selain itu ia juga melarang tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram dipakai untuk penggunaan mesin sedot air terutama untuk lahan pertanian.

“Masa panen dan tanam jagung serta padi  ikut memicu peningkatan penggunaan tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram sehingga di sejumlah pangkalan dan pengecer kerap habis, berimbas kelangkaan,” tambahnya.

Lihat juga...