Aulya Angkat Batik Malang dengan Motif Kekhasan Daerah

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MALANG — Potensi usaha kerajinan Batik di Malang bisa dikatakan cukup menjajikan. Berbagai macam motif dihadirkan para pengrajin untuk memikat hati masyarakat. Hal inilah yang coba dilakukan pengelola Batik Blimbing, Aulya Rishmawati, untuk mengenalkan produknya.

Mengangkat maskot khas Malang, Aulya bersama sang ibu terus mengembangkan produk batik tulis dan cap yang telah dirintis sejak tahun 2010.

“Ibu saya (Wiwik Niarti) sebagai pemilik dan saya yang mengelola. Kita sudah memulai usaha sejak tahun 2010 dengan produk unggulan berupa batik tulis dan cap khas Malang,” sebutnya.

Terkait motif, Aulya mengaku selalu mengutamakan mengangkat maskot kota sebagai ciri khas batiknya. Karena ia ingin mengenalkan kepada masyarakat luas bahwa di kota Malang juga memiliki batik.

“Untuk motifnya sendiri kita mengangkat icon kota, seperti kampung warna-warni dan topeng Malangan,” ujarnya.

Dikatakan Aulya, dalam membuat produk digunakan dua jenis pewarna yakni pewarna sintetis dan pewarna alami sehingga terdapat dua proses pewarnaan.

Menurutnya, pewarna sintentis memang cenderung instan sehingga lebih cepat dalam proses pembuatannya dan harganya juga sedikit berbeda dengan pewarna alami. Memang proses pembuatan menggunakan pewarna alami bisa dua kali lipat lebih lama dibandingkan jika menggunakan pewarna sintetis.

“Hanya saja untuk kosumen lokal, biasanya lebih suka dengan warna sintetis yang cenderung lebih cerah,” ungkapnya.

Lebih lanjut disebutkan, di tempat produksinya yang berada di jalan Candi Jago, kecamatan Blimbing, kota Malang tersebut, Aulya dibantu oleh 10 tenaga kerja dan lima karyawan produksi. Semua produknya ia pasarkan secara offline dengan mengikuti berbagai pameran dan kerjasama dengan pihak terkait, serta dipasarkan secara online dengan memanfaatkan media sosial.

“Terkait harga, kami mematok produk mulai dari 50 ribu hingga satu juta rupiah. Itu termasuk produk turunan,” ucapnya.

Salah satu proses dalam pembuatan batik. Foto: Agus Nurchaliq

Sementara itu, menurut Aulya, potensi di Malang sebenarnya lumayan bagus. Hanya saja mungkin karena kurangnya wawasan, jadi banyak yang belum mengenal.

“Jadi masih banyak masyarakat yang menggunakan batik printing,” katanya.

Melihat permasalahan tersebut, Aulya pada akhirnya juga membuka pelatihan bagi yang ingin belajar sekaligus praktik membatik.

“Dengan begitu harapannya bisa lebih berkembang dan lebih dikenal lagi dan kami ingin selalu berbagi wawasan tentang batik dengan masyarakat,” pungkasnya.

Lihat juga...