Mengenal Pohon Kluwih Koleksi Mekarsari
Editor: Koko Triarko
BOGOR – Bagi masyarakat Jawa, mungkin sangat familier dengan buah Kluwih. Buah yang berkerabat dekat dengan Nangka dan Sukun ini, memang tidak sepopuler kerabatnya itu. Tapi, tampilan buah Kluwih sangat mirip dengan Nangka dan Sukun. Bahkan, bisa disebut merupakan kombinasi dari Nangka dan Sukun.
Staf Agro Taman Buah Mekarsari, Supatmi, menjelaskan buah Kluwih memiliki bentuk bulat, seperti Sukun, tapi memiliki duri lembut yang agak panjang di seluruh permukaannya.
“Saat ini, di Mekarsari kita hanya mengkoleksi satu pohon saja. Kita sudah pernah mencoba untuk menanamnya, tapi belum berhasil. Secara umum, Kluwih mampu tumbuh baik di dataran rendah hingga tinggi. Masyarakat biasanya suka ditanam di pekarangan atau belakang rumah,” kata Patmi, di area Country Side Taman Buah Mekarsari, Rabu (27/2/2019).

Menurutnya, Pohon Kluwih di Mekarsari sudah ditanam sejak 1994. Pohon Kluwih memiliki batang yang tegak, percabangan simpodial, bergetah, permukaan kasar dan berwarna coklat.
“Daunnya tunggal berwarna hijau tebal, memiliki permukaan kasar, tulang daun menyirip dengan ukuran panjang 40 sampai 60 centi meter dan lebar 25 hingga 35 centi meter. Kalau dilihat tampilan daun kluwih ini seperti kipas,” ujar Patmi.
Patmi menjelaskan, Kluwih termasuk tumbuhan yang berumah satu. Maksudnya, bunga jantan dan bunga betina ada pada satu pohon. Sehingga hanya cukup membutuhkan satu pohon untuk penyerbukannya.
“Bunga jantan Kluwih ini kalau kering bisa kita bakar sebagai pengusir nyamuk. Karena baunya menyengat,” ucap Patmi, sambil menunjukkan bunga jantan Kluwih yang berbentuk silindris dengan panjang 10 hingga 12 cm, dan berwarna hijau.
Sementara, bunga betinanya berbentuk bulat dengan ukuran diameter 2 hingga 5 cm. Bunga betina ini yang akan menjadi bakal buah.
Buah Kluwih memiliki tampilan dalam seperti Nangka, dan berwarna putih. Musim berbuah biasanya setelah musim hujan. Dalam satu pohon, bisa didapatkan 40-50 buah, dengan berat per buah sekitar 800 gram.
“Buah Kluwih ini biasanya dijadikan campuran sayur. Bijinya yang berbentuk agak bulat, bisa dijadikan masakan seperti halnya biji Nangka yang bisa dijadikan Beton. Seratnya sendiri bisa digoreng untuk campuran abon atau bawang goreng,” papar Patmi.
Patmi menyatakan, tanaman ini bukan tanaman langka. Hanya memang tergantung pada daerahnya masing-masing.
“Kebanyakan tanaman ini ditemukan di Pulau Jawa. Dan, di Jawa sendiri, ada budaya yang menjadikan daun kluwih sebagai bagian dari upacara adat pengantin. Karena artikulasi kluwih itu bisa memiliki arti lebih, hingga seperti harapan untuk mendapatkan rezeki lebih,” kata Patmi, lebih lanjut.
Batang pohon Kluwih walaupun mirip dengan Nangka, tapi tidak memiliki kekerasan seperti pohon Nangka. Sehingga, biasanya tidak digunakan untuk peruntukan tiang rumah.
“Batang pohon Kluwih biasanya dijadikan kayu bakar atau untuk mendapatkan nilai ekonomis bisa diolah menjadi peralatan atau sovenir, seperti contong,” pungkas Patmi.