Sulitnya Air Bersih Jadi Masalah Klasik di Desa Kelawi-Bakauheni

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kesulitan pasokan air di wilayah Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, masih menjadi persoalan klasik sepanjang tahun. Kawasan perbukitan yang berkontur bebatuan ini, menyebabkan warga sulit membuat sumur dalam.

Syahbana, salah satu warga Dusun Kayu Tabu, menyebut warga masih kerap kekurangan air untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK), terutama saat kemarau. Saat musim hujan, sejumlah warga yang kekurangan air memanfaatkan sumur komunal memenuhi kebutuhan sehari hari.

Syahbana, warga Dusun Kayu Tabu, Desa Kelawi memperlihatkan sejumlah pohon yang dipertahankan di hutan larangan sebagai pohon penangkap air bagi kebutuhan warga -Foto: Henk Widi

Syahbana menyebut, salah satu cara menjaga ketersediaan pasokan air yang dilakukan masyarakat di ujung Pulau Sumatra tersebut, yaitu dengan menjaga alam.

Kondisi alam perbukitan oleh masyarakat dimanfaatkan untuk budi daya berbagai tanaman produktif, seperti cengkih, kakao, kelapa, petai, jengkol, alpukat serta tanaman lain. Berbagai tanaman produktif tersebut sengaja dipertahankan warga sebagai kawasan tangkapan air.

Kawasan Batu Alif yang berhadapan dengan Selat Sunda, juga dilestarikan warga untuk menjaga lingkungan pantai.  Selain sebagai kawasan untuk habitat sejumlah satwa liar, warga juga menjaga kelestariannya sebagai menjadi sumber ekonomi bagi warga.

Kawasan pantai Batu Alif yang terjaga keasriannya menjadi tempat untuk memancing dan mencari ikan secara tradisional, dengan tetap menjaga ekosistem yang ada di wilayah tersebut.

Upaya memenuhi kebutuhan air bersih, kata Syahbana, juga dengan menjaga hutan larangan di bagian atas permukiman warga. Pada awal 2019, Syahbana menyebut pasokan air masih bisa diperoleh warga dengan sistem pipanisasi menggunakan selang, sebagian dengan jerigen.

Menurutnya, keberadaan pepohonan yang dijaga serta dipertahankan menjadi cara warga melestarikan air bersih di wilayah tersebut.

“Beberapa lahan milik warga sudah ditanami berbagai jenis tanaman produktif, namun sebagian merupakan tanaman yang tidak menyerap air, seperti jagung serta pisang, sehingga warga sebagian masih menjaga pepohonan yang menjadi sumber mata air,” terang Syahbana.

Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan juga dilakukan dengan menerapkan penanaman multi purpose tree species (MPTS). Cara tersebut diakui menjadi kearifan warga setempat, dengan menanam pohon produktif yang memiliki fungsi ganda.

Saat pohon menghasilkan buah produktif, manfaat pertama bisa diambil dengan mendapatkan hasil penjualan buah. Beberapa tanaman tersebut di antaranya alpukat, jengkol, petai serta berbagai tanaman produktif lain.

Jenis tanaman keras tersebut, sengaja ditanam masyarakat untuk mendapatkan keuntungan ekonomis. Selain itu, untuk kebutuhan jangka panjang keberadaan pepohonan berakar tunjang menjaga kawasan perbukitan dari risiko longsor.

Syahbana menyebut, dalam kurun waktu satu bulan pada Januari, di wilayah Desa Kelawi terjadi longsor di dua titik. Longsor di Dusun Minang Rua dan Dusun Kepayang terjadi akibat perubahan pola tanam pada lahan perbukitan.

“Kesadaran warga sepertinya harus kembali dibangkitkan, karena peristiwa longsor pada lahan miring bisa merugikan dan membahayakan,” beber Syahbana.

Selain memiliki fungsi kawasan resapan, katanya, keberadaan tanaman yang dijaga kelestariannya akan membantu warga. Tanpa adanya pepohonan yang dilestarikan, warga akan kehilangan sumber mata air.

Sebab, berbagai upaya untuk membuat sumur bor telah dilakukan warga, namun tidak membuahkan hasil. Mempertahankan hutan larangan dengan berbagai jenis pohon, disebutnya cukup efektif menjaga pasokan air untuk kebutuhan masyarakat.

Sumiati, warga Dusun Pematang Macan, Desa Kelawi, yang berada di kawasan perbukitan, mengaku warga masih memanfaatkan sumur komunal.

Sumur galian tersebut masih menjadi pasokan utama bagi warga, saat musim kemarau serta musim hujan. Sejumlah warga yang tidak memiliki sumur bahkan memanfaatkan fasilitas tersebut untuk mengambil air.

Keberadaan pepohonan di perbukitan, sebut Sumiati, masih menjadi penyebab tersedianya pasokan air pada wilayah tersebut.

“Kebutuhan air sangat terasa sekali ketika musim kemarau, dan saat musim penghujan tiba, warga di wilayah ini masih kesulitan mendapatkan air bersih,” beber Sumiati.

Sumiati dan sejumlah warga di Dusun Pematang Macan, menyebut menyadari pentingnya fungsi tanaman untuk kelestarian air. Sebagai kawasan yang dikenal sebagai penghasil buah alpukat, jengkol dan buah-buahan lainnya, masyarakat sengaja mempertahankan berbagai jenis tanaman tersebut untuk kelestarian lingkungan.

Meski secara swadaya membuat sumur komunal, kebutuhan air bersih masih bisa diperoleh memenuhi kebutuhan sehari-hari bahkan di saat musim kemarau berlangsung.

Andi, anak Dusun Pematang Macan, juga mengaku membantu orang tua untuk mengambil air di sumur komunal. Menggunakan jerigen, ia kerap menimba air sumur, lalu menampungnya di bak mandi serta penampungan air di rumahnya.

Aktivitas mengambil air atau ngangsu, dilakukan karena keluarganya tidak memiliki sumur pribadi. Musim penghujan yang masih berlangsung pada awal tahun, ikut membantu pasokan air sumur terjaga untuk masyarakat di wilayah tersebut.

Lihat juga...