Lahan Gersang di Flores Timur, Potensial Dikembangkan Sorgum
Editor: Mahadeva
LARANTUKA – Keberadaan lahan gersang dan tandus di Kabupaten Flores Timur, berpotensi untuk pengembangan sorgum. Lahan gersang tersebut baik yang di Pulau Flores Daratan, Adonara maupun Solor.
Selama ini, lahan gersang tersebut hanya dibiarkan begitu saja. Ditanami jagung dan padi, tapi hasilnya tidak maksimal. “Saya sejak awal gencar untuk mengajak petani menanam sorgum. Kini setelah belasan tahun menanam sorgum, akhirnya sudah banyak petani yang menanam sorgum,” sebut Maria Loretha, Petani Sorgum di Flores Timur, Senin (18/2/2019).
Maria, pada awalnya menanam sorgum di tanah keluarga, tepatnya di Desa Pajinian, Kecamatan Adonara Barat. Penanaman dilakukan bekerjasama dengan Yaspensel Keusukupan Larantuka. Mereka membuka lahan sorgum di Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Ile Bura, Flores Timur.
“Sudah banyak petani di Kawalelo yang menanam sorgum. Kini di Adonara juga sudah berkembang di Kecamatan Witihama, Wotan Ulumado dan lainnya. Juga di Pulau Kecamatan Solor Barat dan Solor Selatan di pulau Solor. Selain itu, ada juga di Kecamatan Ile Mandiri dan Tanjung Bunga di Flores daratan,” jelasnya.
Kini, lahan sorgum baru di Flores Timur, tesebut mencapai 200 hektare. Maria bermimpi, semua lahan gersang dan tidak produktif di Flores Timur, ditanami sorgum. Dan saat ini, sudah ada semangat dari anak-anak muda menanam sorgum. “Harga jualnya memang mahal di Flores Timur. Satu kilogram dijual Rp50 ribu. Banyak orang yang menderita diabetes, bisa sembuh setelah mengkonsumsi sorgum secara rutin,” ungkapnya.

Bila semua petani sudah memiliki mesin penyoso, alat untuk memisahkan kulit sorgum, otomatis banyak petani yang menanam sorgum. Sekarang ini keberadaan mesinnya masih sulit diperoleh, dan harus dibeli dari Jawa dengan harga yang mahal. “Kalau pemerintah bisa membantu kelompok tani lewat pengadaan mesin perontok dan penyoso, maka saya yakin para petani akan beramai-ramai menanam sorgum,” ungkapnya.
Siti Halifah, salah seorang penjual sorgum di pasar tradisional sementara di depan Pasar Inpres Larantuka mengaku, menjual sorgum karena sudah banyak masyarakat yang membeli. Hampir setiap hari, ada masyarakat yang membeli sorgum. “Setiap hari selalu saja ada yang membeli sorgum di tempat saya. Tapi biasanya tidak banyak, paling hanya satu kilogram saja. Saya jualnya satu kilogram Rp50 ribu, tapi tidak banyak orang membeli hingga satu kilogram,” jelasnya.
Siti menjual dengan takaran gelas berukuran sedang. Satu gelas sorgum dijual Rp10 ribu. Orang banyak membeli satu dua gelas sorgum, untuk dikonsumsi sendiri. “Saya tidak tahu kenapa sorgum orang banyak beli. Tapi kata mereka sorgum bisa buat sembuhkan penyakit gula dan lainnya, sehingga orang banyak yang mencari sorgum. Makanya saya membeli sorgum dari petani dan dijual lagi,” terangnya.
Sorgum yang dijual Siti, ada yang masih dengan kulit, namun ada juga yang sudah siap dikonsumsi. Kalau yang belum disosoh dijual dengan harga Rp5 ribu untuk pergelas atau Rp20 ribu per kilogram. “Stok saya pun tidak banyak, paling hanya 20 sampai 50 kilogram saja. Kalau sudah habis terjual baru saya membeli lagi dari petani, sebab kalau beli banyak takutnya lama baru habis terjual,” pungkasnya.