Produktivitas Getah Menurun, Petani Tebangi Tanaman Karet

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Produktivitas tanaman karet milik petani di Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) mulai menurun. Petani pemilik kebun karet memilih menebang tanamannya, untuk diganti dengan komoditas pertanian lain yang lebih menguntungkan. 

Samsudi, salah satu petani di Desa Sri Pendowo menyebut, memilih menebang pohon karet miliknya untuk diganti tanaman jagung dan pisang. Tanaman karet miliknya berjumlah 1.000 batang, dan saat ini ditebang 500 batang. Penebangan dilakukan, setelah tanaman tersebut sempat disadap selama dua tahun. Tanaman berusia sekira sepuluh 10 tahun tersebut, jenis karet Sumatera Selatan, sehingga kurang cocok dikembangkan di wilayah Ketapang.

Pada tahun pertama, produksi getah karet cukup baik dengan harga perkilogram masih berkisar Rp11.000. Memasuki tahun kedua, tanaman karet miliknya mengalami penurunan produksi, dan harga turun mencapai Rp7.000 perkilogram.  “Bibit karet yang saya tanam merupakan bibit berkualitas, namun karena jenis tanah di wilayah ini kurang cocok berimbas produktivitas getah menurun,” beber Samsudi saat ditemui Cendana News, Senin (18/2/2019).

Penanaman karet, selama ini dengan diselingi tanaman jagung, yang bisa memberinya penghasilan tambahan. Meski harga jagung sejak awal Februari juga terus ,enurun, ia memastikan masih bisa memperoleh hasil dari menanam jagung. Penebangan pohon karet dilakukan bertepatan dengan masa panen jagung. Hal itu menjadi bagian dari upaya menyiapkan lahan untuk penanaman jagung pada musim tanam berikutnya.

Sebagian tanaman karet yang disisakan dan tidak ditebang, diharapkan masih bisa berproduksi hingga pertengahan tahun ini. Namun jika produktivitas masih belum meningkat, direncanakan semua pohon karet akan ditebang. Penanaman komoditas secara beragam, menjadi cara untuk memperoleh penghasilan. Hasil pertanian, menjadi sumber mata pencaharian utamanya, untuk membiayai kebutuhan keluarga.

Lahan seluas dua hektare dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis komoditas pertanian, seperti pisang, cabai rawit serta sayur mayur. Tanaman pertanian tersebut menjadi sumber penghasilan harian dan mingguan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Agus, petani penanam karet lain menyebut,  ikut mengurangi tanaman karet akibat harga terus anjlok. Tanaman karet usia sepuluh tahun miliknya, sempat pernah memasuki masa jaya dengan harga perkilogram Rp15.000. Namun kini terus bergerak turun, hingga dikisaran harga Rp7.000 perkilogram. 1.000 tanaman karet pada dua lokasi masih dipertahankan 500 batang.

Hasil sadapan karet, dijual ke pengepul yang akan datang sepekan sekali dengan panen rata-rata mencapai 100 kilogram perpekan. “Sebagian tanaman karet yang saya miliki memang masih dipertahankan, namun kini sebagian ditebang atau dirombak untuk dijadikan lahan menanam jagung dan pisang,” beber Agus.

Agus menyebut, tanaman karet menjadi salah satu komoditas investasi yang bisa memberinya penghasilan mingguan. Selain menanam karet, sebagian lahan yang sudah dibersihkan dari tanaman karet mulai ditanami sayur mayur. Batang tanaman karet yang ditebang, dijual kepada para produsen batu bata dengan harga Rp300.000 untuk satu kendaraan L300. Kayu karet dipergunakan untuk bahan bakar karena mudah terbakar dan awet untuk proses pembakaran batu bata.

Lihat juga...