Harga Garam di Tingkat Petani di Palu Bergerak Naik
PALU — Harga garam tradisional di tingkat petani di Palu, Sulawesi Tengah, kini bergerak naik menyusul stok kurang dan permintaan meningkat.
Pantauan di sejumlah tempat penjualan garam di Palu, Rabu (27/2/2019), harga garam di tingkat produsen sebelumnya rata-rata Rp8.000/kg dan naik menjadi Rp10.000/kg.
Kenaikan harga itu dikarenakan produksi petani menurun sebagai dampak dari bencana alam gempa dan tsunami yang terjadi pada 28 September 2018.
Akibat bencana alam tersebut, kebanyakan petani garam mengalami dampak baik dari segi lokasi yang selama ini menjadi lahan penggaraman tradisional, juga rumah dan harta benda mereka rata-rata lenyap diterjang gempa dan tsunami.
Lahan penggaraman banyak yang rusak dan ditumpuki berbagai puing-puing bangunan sehingga perlu membersihkannya.
Sementara di satu sisi para petani kekurangan modal untuk mengolah kembali lahan penggaraman mereka yang berada di bibir Pantai Talise, Kecamatan Palu Timur.
Hingga kini, kata Nining, seorang petani garam di kelurahan itu, banyak petani yang belum beraktivitas kembali karena kendala modal.
Mereka berharap mendapat bantuan modal dari pemerintah atau lembaga perbankan setempat agar bisa kembali mengolah lahan penggaraman yang sudah hampir lima bulan terakhir ini tidak digarap.
Kepala Bidang Pedagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Tengah, Zainuddin Hak, membenarkan harga garam tradisional di tingkat petani naik karena stok berkurang dan permintaan pasar meningkat.
Kurangnya stok garam di tingkat petani dikarenakan masih sebagian besar petani hingga kini belum juga memproduksi garam karena kesulitan modal.
“Masalahnya bukan hanya lahan mereka yang hancur diterjang gempa dan tsunami, tetapi juga rumah dan semua harta benda mereka ikut diterjang bencana alam tersebut.
Kini, kata dia, mereka harus berjuang dari awal lagi untuk kembali memproduksi garam tradisional. [Ant]