Bonsai, Seni Mengkerdilkan Tanaman Berharga Jutaan Rupiah
Editor: Mahadeva
MALANG – Maraknya kehadiran aneka tanaman hias, ternyata tidak membuat seni bonsai kehilangan pesonanya. Terbukti, hingga saat ini masih cukup banyak masyarakat yang mengoleksi maupun yang memproduksi tanaman bonsai.
Salah satunya adalah, Teguh Satrio Wibowo. Sosok anggota Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) cabang kota Malang tersebut mengatakan, di dunia bonsai Dirinya bisa dikatakan sebagai pendatang baru. Dia mulai menekuni seni bonsai sejak tiga tahun terakhir. Ketertarikan Teguh pada seni bonsai, bermula ketika ada relasinya yang memberinya bonsai cemara untuk dirawatnya. Dari situ, muncul ketertarikan Teguh pada bonsai karena keunikannya.
Teguh menyebut, bonsai merupakan tanaman atau pohon yang sengaja dikerdilkan di dalam pot. Keberadaanya, untuk mendapatkan miniatur dari bentuk asli pohon yang besar di alam bebas. “Bagi saya, bonsai melatih kita agar tetap ingat dengan yang maha kuasa, sekaligus menjadi spirit buat kita, agar tidak sombong. Karena kita dihadapan pohon sekecil ini, saya selalu merasa kecil,” ujarnya.
Bonsai memiliki gaya masing-masing. Setiap gaya, memiliki teknik yang berbeda-beda. Mulai dari teknik perawatan, pemangkasan, maupun teknik menikmati tanamannya, juga berbeda-beda. “Salah satunya adalah tekni panorama, dimana terdapat elemen batu yang disertakan pada bonsai, sehingga orang yang melihatnya seolah-olah seperti berada di tebing,” jelasnya.
Dengan demikian, nilai seni bonsai, selain pada betuk, juga terletak pada perawatan dan teknik pengerjaan. Hanya saja, menurut Teguh, teknik yang digunakan pada bonsai bukan menyalahi hukum alam, tetapi menyesuaikan hukum alam. “Contohnya, pada tanaman pohon pastinya akan muncul cabang. Namun karena pada cabang pohon yang masih muda cenderungnya ke atas mengikuti sinar matahari, maka kita berikan teknik pengawatan yang fungsinya untuk mengarahkan cabang yang notabene naturalnya ke atas, kita arahkan ke samping, ke depan, belakang atau sesuai yang di inginkan,” jelasnya.
Teknik pengawatan, selain untuk mengarahkan cabang, juga berfungsi untuk menghambat pertumbuhan batang, agar besarnya bisa diatur sesuai yang diinginkan. Kalau ingin batangnya membesar, maka kawatnya harus dilepas. Kemudian ada juga teknik perawatan, agar bonsainya tetap kecil tapi tetap subur. Jika di alam, tanah atau unsur hara dari tanaman sudah tercukupi. Bonsai yang sengaja diambil dari tanah untuk di tanam dalam pot, memerlukan asupan nutrisi agar bisa tetap hidup.
“Karena di pot unsur haranya terbatas, sehingga perlu dirawat dengan memberikan pemupukan secukupnya dan jangan berlebih,” terangnya.
Bonsai yang kekurangan unsur hara, akan mengalami perubahan pada daun, yang awalnya warnanya hijau, akan menguning. Teknik bonsai, sebenarnya memiliki tiga unsur utama, yang harus terpenuhi yakni, angin yang cukup, cahaya matahari dan unsur air. Jika tiga unsur tersebut tercukupi, maka bonsai sudah bisa berkembang dengan baik.
Selanjutnya, adalah teknik penghilangan daun. Di alam, bisa dilihat pohon juga mengurangi daun, dengan cara menggugurkan daunya. Ha itu untuk mengurangi penguapan. Sedangkan pada seni bonsai, ada beberapa manfaat ketika bonsai tampil tanpa daun. “Pertama memang ada jenis pohon-pohon tertentu yang karakter batangnya bagus, sehingga dimungkinkan kalau tampilnya itu dengan daun, justru karaktateristik batang ini akan tertutupi. Jadi ibaratnya kecantikan bonsai ini justru tertutup oleh daun,” sebutnya.
Kemudian teknik membuat batang nampak menjadi lebih tua, yakni dengan cara tamaman terus dijemur di bawah terik matahari. Hal itu bisa memunculkan kerak-kerak batang. Tetapi ada juga teknik sayatan, dengan memberikan guratan-guratan yang nantinya akan membuat kambium batang menutupi sayatan tersebut, dan hasilnya nanti menjadi kerak seperti pohon tua.
Teguh menuturkan, tanaman bonsai seharusnya sesuai dengan kondisi di lingkungan alaminya. Jadi, tidak semua pohon bisa ditanam atau dipelihara di Malang. Kalau di Malang yang paling bagus dan paling sesuai dijadikan bonsai pohon Ficus. Sejenis pohon asli Indonesia beringin. “Selain perawatannya mudah dan tahan hama, pertumbuhannya juga cepat dan tidak gampang mati,” tuturnya.
Bonsai sebenarnya ada dua, yakni bonsai kelas seni atau kontes, dan bonsai suvenir atau tanaman estetika. Keduanya membutuhkan waktu yang jauh berbeda dalam proses pembuatan. Pembuatan bonsai yang kelasnya suvenir, tidak membutuhkan waktu yang lama, karena yang ditampilkan kesan cantiknya saja, tanpa mengindahkan kaidah-kaidah alam. Sedangkan bonsai kelas seni atau kontes, mempunyai standar yang harus terpenuhi.
Sehingga proses pembuatan bonsai kelas seni, membutuhkan waktu lebih lama. Bisa berkisar antara delapan hingga 10 tahun, untuk bonsai berukuran kecil. Sementara bonsai ukuran besar, membutuhkan waktu minimal 25 tahun, untuk bisa menghasilkan bonsai seni sesuai klasifikasi. “Untuk itu kenapa harga tanaman bonsai bisa sangat mahal hingga puluhan juta atau ratusan juta, karena proses pembuatannya yang cukup lama dan membutuhkan kesabaran,” pungkasnya.