Pascatsunami, Usaha Pembenihan Udang di Lamsel, Masih Lumpuh

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sektor usaha pembenihan udang atau benur di Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan (Lamsel) hingga pekan kedua pasca tsunami belum pulih.

Waris, salah satu penanggungjawab di salah satu lokasi pembenihan udang jenis vaname (Penaeus Vannamei) mengaku, kerusakan kolam akibat tsunami membuat pemilik kolam pembenihan udang merugi hingga ratusan juta rupiah.

Sebanyak 28 kolam pembenihan udang pada usaha milik Dedi Supomo tersebut bahkan memasuki masa panen saat tsunami Sabtu (22/12/2018) silam.

Waris menyebut, ada beberapa kolam terdampak tsunami, misalnya benur udang dengan ukuran 10 PL (post larva). Saat terjadi tsunami, sesuai rencana pada Minggu (23/12/2018) benur akan dipanen untuk kebutuhan sejumlah petambak udang.

Pada saat kejadian, sejumlah karyawan disebut Waris, sengaja menyelamatkan diri karena ketinggian air kala itu mencapai dua meter lebih. Kerusakan peralatan di lokasi pembenihan udang serta benur yang urung dipanen membuat pemilik usaha merugi.

Waris mengungkapkan, hingga pekan kedua pasca tsunami, pekerja sedang melakukan proses pembersihan di area pembenihan udang. Sejumlah peralatan yang rusak di antaranya mesin pompa air tawar, pompa air laut, jaringan pipa air laur, dinamo, blower serta sejumlah fasilitas lain.

Pagar tembok pemisah antara lokasi pembenihan dan jalan raya bahkan roboh akibat hantaman tsunami.

Sebagian kolam benur udang jenis vaname gagal panen akibat tsunami – Foto: Henk Widi

“Hampir semua usaha pembenihan udang sementara lumpuh. Bagi yang memiliki modal langsung melakukan perbaikan. Namun sejumlah pemilik usaha pembenihan udang yang belum memiliki modal memilih berhenti usaha,” beber Waris, saat ditemui Cendana News di lokasi usaha pembenihan udang Desa Kunjir Kecamatan Rajabasa, Selasa (15/1/2019).

Sarana produksi yang rusak oleh sejumlah pekerja diakui Waris mulai dibereskan, meski sebagian sudah tidak bisa digunakan. Sejumlah kotak kardus yang disebutnya digunakan untuk pengemasan pengiriman benur bahkan rusak.

Sejumlah kolam benur yang masih bisa digunakan diakui Waris mulai dibersihkan. Sejumlah kolam diakuinya sengaja dikuras dengan tujuan air tidak menggenang untuk perkembangan jentik nyamuk.

Pemilik usaha pembenihan udang skala rumah tangga, Kimong, warga Desa Rajabasa, Kecamatan Rajabasa menyebut, mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Pemilik usaha pembenihan udang jenis vaname dan windu itu mengaku, kerusakan terjadi pada tempat produksi. Ia bahkan menyebut, sesuai jadwal benur akan dipanen setiap dua kali dalam sepekan.

Sebagai pemilik usaha Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT) ia mengaku, hingga kini belum berproduksi.

Kimong, salah satu pemilik usaha hatchery atau pembenihan udang di Desa Rajabasa, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

“Imbas tsunami membuat usaha pembenihan udang yang saya miliki rusak bahkan tidak beroperasi,” beber Kimong.

Kimong menyebut, meski sudah ada pendataan, namun hingga kini belum ada bantuan. Meski demikian, sejumlah pemilik usaha pembenihan udang sudah mulai beroperasi sebab pasokan telur (naubly) baru bisa diperoleh untuk pembenihan udang.

Ia juga berharap, satu bulan pasca tsunami, sejumlah pemilik usaha pembenihan udang bisa bangkit kembali. Pembenihan udang tersebut diakui Kimong memasok usaha tambak udang di wilayah Lampung Selatan serta Lampung Timur.

Selain bagi para pengusaha pembenihan udang, tsunami juga berdampak bagi sejumlah nelayan di pesisir Rajabasa Lampung Selatan.

Hasan, salah satu nelayan Way Muli menyebut, sejumlah perahu nelayan jenis jukung, kapal motor, perahu sayap mengalami kerusakan. Sejumlah perahu nelayan yang rusak bahkan sudah mulai diangkat ke lokasi yang aman untuk perbaikan meski sebagian mengalami kerusakan.

Hasan menyebut, laporan terkait kerusakan kapal dan perahu tangkap diakuinya sudah terdata. Ia berharap, bantuan dari pemerintah bisa meringankan beban bagi para nelayan.

Bantuan dari beberapa pihak terkait untuk berlangsungnya usaha sektor perikanan diakui Hasan bisa membangkitkan ekonomi masyarakat nelayan di wilayah pesisir pantai Lamsel.

Kondisi perairan Selat Sunda yang berada dekat dengan Gunung Anak Krakatau (GAK) disebutnya mulai berangsur tenang sehingga nelayan bisa kembali melaut.

Lihat juga...